DPRD Bali Gelar Paripurna ke-47, Peringati Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali

0
130
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali menggelar Rapat Paripurna ke-47 di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Bali, Jumat 14 Agustus 2026.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali menggelar Rapat Paripurna ke-47 di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Bali, Jumat 14 Agustus 2026. Sumber foto: DPRD Bali/Updatebali

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali menggelar Rapat Paripurna ke-47 di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Bali, Jumat 14 Agustus 2026.

Rapat tersebut bertepatan dengan puncak peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali.

Rapat paripurna dipimpin Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya dan didampingi jajaran Wakil Ketua DPRD Bali. Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, anggota DPRD Bali, serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Bali turut hadir dalam agenda tersebut.

Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali tahun ini mengusung tema “Suci Lascarya, Nusa Wijaya”. Tema tersebut menjadi refleksi semangat ketulusan dan pengabdian dalam menjaga sekaligus mewujudkan kejayaan Bali.

Dalam kesempatan itu, Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum hari jadi sebagai sarana mengenang perjalanan sejarah Bali sejak ditetapkan sebagai provinsi pada 1958.

Baca Juga:  Dewan Buleleng Sampaikan Rekomendasi LKPJ Bupati Buleleng Tahun 2023

Ia juga menekankan pentingnya menghargai jasa para pemimpin Bali terdahulu yang telah memberikan pengabdian dan meletakkan dasar pembangunan daerah dari masa ke masa.

Gubernur Bali Wayan Koster dalam pidatonya turut mengajak masyarakat Bali menelusuri kembali perjalanan panjang pemerintahan Provinsi Bali. Menurutnya, sejarah pembangunan Bali tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para gubernur yang telah memimpin daerah tersebut.

“Sejak menjadi provinsi yang bergabung dengan Provinsi NTB dan NTT, yang ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958, kita patut mengingat jejak kepemimpinan di Provinsi Bali yang menjadi bagian sejarah perjalanan Provinsi Bali,” ujar Koster.

Koster menyebut terdapat tujuh gubernur yang telah memimpin Bali sejak masa awal pemerintahan provinsi. Mereka yakni Anak Agung Bagus Suteja yang menjabat 1959-1965, I Gusti Putu Martha 1965-1967, Soekarmen 1967-1978, Ida Bagus Mantra 1978-1988, Ida Bagus Oka 1988-1998, Dewa Made Berata 1998-2008, serta I Made Mangku Pastika 2008-2018.

Baca Juga:  FKH Unud Gelar Rapat Koordinasi Kontrak Kinerja dengan Civitas Akademika

Dari tujuh tokoh tersebut, lima mantan gubernur, yakni Anak Agung Bagus Suteja, I Gusti Putu Martha, Soekarmen, Ida Bagus Mantra, dan Ida Bagus Oka, telah meninggal dunia.

Koster mengajak seluruh masyarakat untuk meneruskan semangat pengabdian yang telah diwariskan para pemimpin terdahulu. Momentum hari jadi, kata dia, tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga kesempatan untuk melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap perjalanan pembangunan Bali.

Dalam pidatonya, Koster juga menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi Provinsi Bali harus menjadi momentum memperkuat persatuan masyarakat melalui semangat gilik-saguluk, paras-paros, serta rasa kebersamaan dalam menjalankan tanggung jawab terhadap daerah.

“Melalui peringatan hari jadi Provinsi Bali ini, mari bersama-sama memperkuat dan menjaga semangat persatuan, kebersamaan, serta pengabdian untuk membangun Bali,” kata Koster.

Ia menegaskan, Bali memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kekayaan tersebut menjadi bagian penting dari identitas Bali sekaligus modal dalam menjaga keberlanjutan pembangunan daerah.

Baca Juga:  Akademisi Sambut Baik Perda Haluan Pembangunan 100 Tahun Bali Masa Depan Inisiasi Gubernur Koster

Menurut Koster, Bali telah dikenal hingga mancanegara karena memiliki budaya yang kuat dan berakar pada warisan leluhur. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai karya seni, budaya, pustaka lontar, serta konsep Sad Kerthi yang menjadi landasan dalam menjaga keseimbangan kehidupan di Bali.

“Budaya adiluhung, warisan leluhur, seni, adat, serta nilai-nilai Sad Kerthi harus terus kita jaga, rawat, dan lestarikan sebagai jati diri sekaligus kekuatan Bali,” ujarnya.

Koster berharap momentum Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali dapat menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan, memperkuat pembangunan, serta mempertahankan identitas Bali di tengah perubahan zaman.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur sebagai pedoman dalam menjaga Bali agar tetap kokoh, berkelanjutan, dan memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.(den/updatebali)