Semangat Tak Pernah Padam, A.A. Istri Rai Setyawati Terus Wariskan Tari Bali kepada Anak-Anak

0
146
A.A. Istri Rai Setyawati, meski berusia 73 tahun, tetap berdedikasi mengajar dan membimbing anak-anak menari, menjadikan dirinya pusat pengabdian seni Bali bagi generasi muda.
A.A. Istri Rai Setyawati, meski berusia 73 tahun, tetap berdedikasi mengajar dan membimbing anak-anak menari, menjadikan dirinya pusat pengabdian seni Bali bagi generasi muda. Sumber foto : Humas Denpasar

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Di tengah kemeriahan rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu, 8 Maret 2026, sosok A.A. Istri Rai Setyawati tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil.

Dengan penuh kesabaran, perempuan berusia 73 tahun itu membimbing setiap gerakan, memastikan anak-anak menari dengan percaya diri di atas panggung.

Usia yang tidak lagi muda tidak mengurangi semangatnya dalam berkesenian. Perempuan kelahiran Sayan, Gianyar ini telah menetap di Denpasar sejak menempuh pendidikan seni di KOKAR Denpasar. Sejak saat itu, hidupnya tidak pernah terlepas dari dunia tari Bali.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga napas kehidupan yang terus ia rawat hingga kini. Ia dikenal sebagai bagian dari generasi penari yang tumbuh bersama maestro tari Bali I Nyoman Suarsa, yang akrab disapa Pak Yang Pung.

Baca Juga:  Motor Seruduk Motor di Jalur Denpasar Gilimanuk, Satu Pengendara Alami Luka Bakar

Kini, sebagian besar rekan seangkatannya telah berpulang. Namun bagi Rai Setyawati, perjalanan pengabdian pada seni belum pernah berakhir.

“Semangat saya masih tetap berkobar dalam mengabdikan diri di bidang seni. Saat ini saya juga dipercaya menjadi pendidik di PAUD Saraswati 3 Denpasar,” ujarnya dengan senyum hangat.

Di lembaga pendidikan anak usia dini tersebut, ia menanamkan kecintaan terhadap seni kepada generasi paling muda. Dengan sabar dan telaten, ia mengajarkan dasar-dasar gerak tari Bali, mulai dari gerakan tangan, sorot mata, hingga langkah kaki yang dilatih perlahan.

Selain mengajar di PAUD, Rai Setyawati juga rutin membimbing anak-anak di Sanggar Tari Rimantaka yang ia kelola bersama putrinya. Dari ruang latihan sederhana itu, banyak anak-anak mulai berani tampil dalam berbagai agenda budaya dan pertunjukan seni di Kota Denpasar.

Baca Juga:  OJK, PPATK dan BSSN Perkuat Kolaborasi untuk Jaga Integritas dan Keamanan Sistem Keuangan Nasional

Bagi Rai Setyawati, melihat anak-anak menari dengan penuh semangat merupakan kebahagiaan tersendiri. Ia meyakini bahwa melalui generasi muda, tradisi akan terus menemukan ruang hidupnya.

Di balik dedikasinya sebagai seniman, Rai Setyawati juga merupakan ibu dari empat anak—tiga putra dan satu putri. Nilai kerja keras dan pengabdian yang ia tanamkan turut membentuk perjalanan hidup anak-anaknya.

Salah satu putranya, Dedy Sutrisna Agung, kini mengabdi di salah satu perangkat daerah di Kota Denpasar serta aktif dalam kepengurusan adat di Desa Adat Penatih Puri. Ia menuturkan bahwa kecintaan ibunya pada seni menjadi sumber kekuatan bagi keluarga mereka.

“Saya dibesarkan dari perjuangan ibu saat berkesenian. Beliau tidak hanya berkarya, tetapi juga mampu membiayai kebutuhan hidup keluarga dari dunia seni,” ujarnya.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Tunjuk Fadli Zon Buka PKB 2025, Masih Jalani Misi Kenegaraan di Rusia

Menurutnya, berkesenian juga menjadi energi tersendiri bagi sang ibu.

“Jika ibu diberi kesempatan untuk terus berkesenian, sakitnya seperti hilang. Keluhan sebagai orang tua terasa berkurang ketika beliau bisa mengajarkan anak-anak menari,” tambahnya.

Bagi Rai Setyawati, seni tari adalah ruang pengabdian sekaligus sumber semangat hidup. Di usia senja, ia tetap setia berdiri di ruang latihan, mengajarkan gerak demi gerak kepada generasi penerus. Selama tubuh masih mampu bergerak dan ada anak-anak yang ingin belajar, baginya tari Bali harus terus hidup dan berkembang.

Dari tangan seorang guru seni seperti Rai Setyawati, nyala tradisi itu terus dijaga agar tetap menari dalam perjalanan waktu dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(per/ub)