UPDATEBALI.com, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali terus memperkuat langkah menuju kemandirian energi melalui pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Salah satu potensi yang kini menjadi perhatian adalah pemanfaatan energi arus laut di kawasan Selat Nusa Penida.
Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan hal tersebut saat memimpin Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Penataan Ruang Laut Berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Ruang Rapat Kertha Sabha, Jaya Sabha Denpasar, Kamis 9 Juli 2026.
Menurut Koster, Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia membutuhkan ketersediaan energi yang kuat dan berkelanjutan. Ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar daerah dinilai menjadi tantangan yang harus segera diatasi, terutama seiring meningkatnya kebutuhan listrik akibat pertumbuhan sektor pariwisata dan industri.
“Bali harus mandiri energi dengan memanfaatkan energi bersih dan terbarukan,” jelasnya.
Saat ini kebutuhan listrik di Bali berada pada kisaran 1.300 MW hingga 1.400 MW. Dari jumlah tersebut, sekitar 400 MW masih dipenuhi melalui jaringan interkoneksi kabel bawah laut yang berasal dari PLTU Paiton, Jawa Timur.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Pemprov Bali telah menjalankan sejumlah program pengembangan energi bersih sebagaimana tertuang dalam Pergub Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih. Salah satunya melalui percepatan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap secara luas di berbagai fasilitas, mulai dari gedung pemerintahan, bangunan komersial, hingga hotel dan sektor industri.
Selain energi surya, Koster juga mendorong pengembangan Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Program tersebut diharapkan mampu menjadi solusi terhadap persoalan sampah perkotaan sekaligus menambah kontribusi energi terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik Bali.
Kini, Pemprov Bali juga mulai mengkaji potensi energi laut sebagai sumber energi masa depan. Bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta hasil kajian Institut Teknologi Bandung (ITB) di bawah koordinasi Prof. Dwi Susanto dari Maryland University, Bali melihat peluang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di kawasan Selat Nusa Penida.
“Saya sudah menangkap idenya dan ini memang sangat kita perlukan. Ternyata kita memiliki potensi besar, ini harus kita manfaatkan sebagai sumber penghidupan masyarakat Bali,” jelasnya.
Prof. Dwi Susanto dari Maryland University USA menjelaskan, wilayah selat di Indonesia, termasuk kawasan Nusa Penida, memiliki potensi besar untuk menghasilkan energi dari pergerakan arus laut. Potensi tersebut dinilai sangat sesuai untuk dikembangkan menjadi pembangkit listrik berbasis energi laut.
Berdasarkan kajian yang dilakukan, potensi energi listrik dari tiga selat di sekitar Nusa Penida diperkirakan mencapai 376,8 MW. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk mendukung kemandirian energi Nusa Penida, meskipun pembangunan PLTAL nantinya akan dilakukan secara bertahap dengan konsep modular sesuai kebutuhan.
Sementara itu, Dirjen Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kartika Listriana, melalui sambungan konferensi daring memberikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Provinsi Bali dalam mendorong pengembangan EBT laut.
Ia berharap pemanfaatan energi laut dapat diterapkan di Bali dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengembangkan sumber energi bersih dan berkelanjutan.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pemprov Bali optimistis pemanfaatan energi terbarukan dapat memperkuat ketahanan energi daerah sekaligus mendukung visi Bali sebagai wilayah yang mandiri, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.(yud/ub)





