spot_img
spot_img
BerandaBaliTari Sakral Wayang Wong Desa Adat Tejakula Dapat Pengakuan UNESCO

Tari Sakral Wayang Wong Desa Adat Tejakula Dapat Pengakuan UNESCO

UPDATEBALI.com, BULELENG – Desa Adat Tejakula telah merayakan pencapaian luar biasa dengan mendapatkan sertifikat pengakuan dari UNESCO atas Wayang Wong, sebuah tarian sakral yang menjadi warisan budaya dunia. Tarian ini telah dipentaskan dengan gemilang dalam acara Piodalan di desa tersebut.

Namun, selain versi sakralnya, Wayang Wong juga memiliki versi duplikat yang ditujukan untuk pertunjukan seni dan hiburan bagi para tamu serta undangan pada berbagai acara kesenian, seperti yang disampaikan oleh Ketut Artha Swatara, Koordinator Penari Wayang Wong.

Ketut Artha Swatara, Koordinator Penari Wayang Wong. Sumber foto: Humas Kominfosanti Buleleng

Swatara melanjutkan untuk mengungkapkan bahwa Wayang Wong Sakral, yang berpusat di Pura Pemaksan, dipentaskan dua kali dalam perayaan Pengebek Piodalan dan Pengelebar di Pura Khayangan Tiga, Pura Pemaksan, dan Pura Dangka. Namun, tarian ini hanya boleh dipentaskan di wilayah Desa Adat Tejakula.

Baca Juga:  Mantapkan Ranperda, Pansus I DPRD Buleleng Gelar RDP Dengan SKPD Terkait

Lebih lanjut, Swatara menjelaskan bahwa pentas Wayang Wong pada hari ini adalah versi duplikat yang berasal dari Sekeha Guna Merti, sebuah kelompok yang terdiri dari 40 anggota, termasuk 25 penari dan 15 penabuh. Wayang Wong Duplikat telah tampil di berbagai tempat baik di dalam maupun luar negeri sejak tahun 1990-an, menjadi bagian dari berbagai pertunjukan seni.

“Perlu dicatat bahwa Wayang Wong Duplikat hanya menduplikasi kostum dan tapel dari versi sakralnya. Ini diciptakan pada tahun 1970-an atas permintaan tamu-tamu sebagai bentuk hiburan seni,”ungkapnya.

Swatara juga menjelaskan bahwa Wayang Wong adalah tarian yang mengisahkan kisah pewayangan Ramayana 7 Kanda, dengan penari memakai topeng yang mewakili karakter seperti pasukan Hanoman, raja, Dewi, dan Parwa cerita Mahabrata, yang tidak menggunakan topeng.

Baca Juga:  PBSI Buleleng Dipercaya Jadi Tuan Rumah Kejurprov Bali 2026 dan Porprov 2027

Mengenai anggota penari, yang dikenal sebagai krama, dan warga di luar krama yang berkeinginan untuk bergabung, mereka sangat diterima untuk berpartisipasi. Lebih dari 200 anggota krama secara turun temurun berkontribusi sebagai penari dalam tarian ini. Diyakini bahwa jika seseorang tidak melanjutkan tradisi menjadi krama, maka ia akan mengalami ketidakberuntungan.

Ketika ditanya tentang sejarah Wayang Wong, Ketut Swatara menjelaskan bahwa ini sangat terkait dengan pembentukan sejarah desa dan seni di desa tersebut. Pada masa lampau, kelompok seni Gambuh dari Bangli dan Blahbatuh Gianyar membawa unsur-unsur seni Parwa ke Desa Tejakula, yang kemudian mengalami aliran budaya dan menciptakan Wayang Wong.

Baca Juga:  Motor Vs Minibus di Desa Pacung, Satu Meninggal Dunia

Untuk memastikan regenerasi penari Wayang Wong, pihak terkait telah bekerjasama dengan Camat Tejakula dalam mengajar anak-anak tentang tarian ini dengan menggunakan pendekatan yang menarik. Anak-anak diajarkan tarian Wayang Wong sambil menciptakan kerajinan Ecobrik dari sampah plastik, sebuah upaya positif dalam mendidik generasi muda.

Terakhir, Swatara berharap agar Wayang Wong khas Tejakula tetap eksis dan terus berkembang seiring waktu. Upaya akan terus dilakukan untuk belajar dari para ahli dan seniman terkemuka dalam upaya melestarikan tradisi ini, dan mewariskannya kepada generasi mendatang agar Wayang Wong terus hidup dan lestari. (adv/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments