UPDATEBALI.com, BULELENG – Sebuah rumah serta dua tempat suci di Desa Sudaji menjadi sasaran vandalisme oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Vandalisme ini dilakukan di tangga hingga tembok Pura Desa Sudaji dan Pura Sang Peta serta di tembok rumah warga, pada Selasa (11/10/2022).
Saat dikonfirmasi Rabu (12/10/2022) Kepala Desa Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan pun membenarkan adanya tindak vandalisme yang menyasar dua tempat suci dan juga tembok rumah miliknya ini dengan bertuliskan "Bendesa Memitra". Namun coretan itu sudah dihapus oleh pihak Desa Adat karena dinilai tidak bermoral.
"Betul terjadi hal itu dan kebetulan saya lihat langsung pas lewat, ada coretan-coretan bertuliskan kalimat itu ditangga Pura dan dinding rumah," ucap Kepala Desa Sudaji I Made Ngurah Fajar Kurniawan.
Selanjutnya Fajar Kurniawan juga menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan paruman desa, lantaran dirinya menilai bahwa tindakan vandalisme tersebut tidak cukup hanya dibersihkan saja namun harus ditindak lanjuti karena semua itu menyangkut kesucian dari areal Pura Desa Sudaji.
"Saya sebagai kepala desa dan jero mangku menilai jika pembersihan tidak cukup hanya dilakukan pengecatan saja, akan tapi juga secara sekala dan niskala. Nah yang belum kan niskalanya. Jadi ini kita harus selesaikan dengan paruman," ujarnya.
Disisi lain dengan adanya aksi vandalisme ini, Ketua PHDI Kabupaten Buleleng, I Gede Made Metera menyatakan bahwa tindakan vandalisme ini mengganggu kesucian di areal pura mengingat bagi umat Hindu Pura merupakan tempat suci untuk memuja Ista Dewata jadi harus dilakukan upacara sesuai Dresta di Desa Adat yang bersangkutan.
Baca juga:
Pemulangan WNI Novita Kurnia Putri Korban Salah Tembak Menunggu Terbitnya Dokumen Kematian
Saat disinggung terkait apakah dengan adanya vandalisme itu harus dihaturkan guru piduka, Made Metera menegaskan bahwa itu tergantung Dresta di Desa yang bersangkutan. Sebab menurutnya Pengempon (pengurus) atau Jero Mangku (orang suci) di Pura tersebut tentunya sudah paham tindakan yang harus dilakukan dengan adanya vandalisme tersebut.
"Misalnya kalau warga merasa Ista Dewata yang berstana di Pura itu tidak berkenan dengan adanya tulisan seperti itu dan warga merasa perlu melakukan guru piduka, baik itu dilaksanakan. Namun sekali lagi semua kita kembalikan ke Dresta dan kenyamanan serta perasaan kesucian warga disana," ungkap Made Metera.(diana/ub)





