PLTS Hadir, Pos Ranger Pulau Menjangan Kini Tinggalkan Genset

0
226
Proses pemasangan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Menjangan, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.
Proses pemasangan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Menjangan, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Sumber foto : Dna/updatebali

UPADTEBALI.com, BULELENG – Pos Ranger Taman Nasional Bali Barat (TNBB) di Pulau Menjangan, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng kini mulai beralih dari genset berbahan bakar minyak (BBM) ke energi surya. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dipasang mampu menopang kebutuhan listrik pos selama 24 jam tanpa bergantung pada genset.

Program Solar Horizon Menjangan tersebut digagas AVIRAMA Foundation untuk menghadirkan akses listrik bersih di kawasan konservasi Pulau Menjangan.

Direktur AVIRAMA Foundation Gede Herry Arum Wijaya mengatakan, ide pemasangan PLTS berawal dari keprihatinannya ketika melihat penggunaan genset di kawasan konservasi. Selain membutuhkan BBM dalam jumlah besar, suara genset juga dinilai berpotensi mengganggu lingkungan sekitar.

“Program kami ini bertujuan untuk memberikan akses listrik bersih ke Pulau Menjangan. Saat pertama kali saya dulu ke Pulau Menjangan, saya mendengar suara berisik dari genset ini, dan saya berpikir, masak iya pulau yang termasuk wilayah konservasi tapi pakai genset yang berisik dan ganggu hewan di area ini,” Ujar Herry, saat dikonfirmasi Selasa 1 September 2026.

Baca Juga:  Uji Lemigas Pastikan Pertalite Aman, Pertamina Janji Perkuat Pengawasan BBM Nasional

Dari kondisi tersebut, AVIRAMA Foundation kemudian merancang program energi surya. Program itu berhasil masuk dalam 50 proyek terpilih pada ajang Youth4Climate 2025 dan kemudian diimplementasikan di Pulau Menjangan pada 2026.

Proses pembangunan diawali dengan site survey pada Maret 2026, kemudian dilanjutkan dengan eksekusi dan instalasi pada 20-25 Juli 2026.

Gede Herry menjelaskan, PLTS yang dipasang memiliki kapasitas 5,5 kWp dan dilengkapi baterai penyimpanan energi LiFePO4 berkapasitas 12 kWh. Saat masa uji coba, sistem tersebut mampu memenuhi kebutuhan listrik Pos Ranger selama 24 jam tanpa menyalakan genset.

Baca Juga:  Bale Banjar Jaba Jero Kuta Resmi Diresmikan, Bupati Badung Dorong Penataan Kawasan

“Dengan adanya panel surya ini, pos tidak bergantung lagi pada BBM yang mahal dan menghasilkan polusi suara dan emisi. Jadi, pos ranger ini dapat menjadi lebih baik dalam hal keselamatan dan penunjang hidup serta pekerjaannya seperti kulkas, internet, dan komputer,” Jelasnya.

Sementara itu, Ranger TNBB Post Menjangan Komang Suartawan mengatakan, sebelum adanya PLTS, kebutuhan listrik di pos sangat bergantung pada ketersediaan BBM. Penggunaan genset pun lebih banyak dilakukan pada malam hari untuk menekan biaya operasional.

“Kalau mau full listrik 24 jam, butuh 20 liter, diutamakan malam hari, jadi siang ke sore hari tidak pakai listrik karena biaya mahal dari BBM tersebut. Tapi kalau urgent mau tidak mau harus dipakai gensetnya untuk mendapatkan listrik,” Kata Suartawan.

Suartawan menambahkan, ketergantungan terhadap BBM juga menjadi kendala ketika persediaan bahan bakar habis. Para ranger harus menyeberang ke pulau utama untuk mendapatkan BBM atau menunggu jadwal pergantian petugas.

Baca Juga:  Perjuangan Panjang Melawan Predator Seksual di Lingkungan Kampus

“Jadi ketersediaan listrik kami dulu sangat bergantung pada ketersediaan BBM-nya. Kalau BBM-nya habis, ya sudah tidak ada listrik, cari BBM juga harus menyeberang ke pulau utama, atau menunggu jadwal aplusan/shift,” Ungkapnya.

Selain persoalan pasokan dan biaya, suara genset juga dinilai berpotensi mengganggu lingkungan dan satwa di sekitar pulau menjangan. Sebelum menggunakan panel surya, listrik di pos umumnya hanya menyala dari malam hingga pagi.

“Dulu, sebelum ada panel surya, listrik itu bisa saja hidup dari jam 7 malam sampai pagi, tapi ya itu, pakai genset, berisik dan ganggu hewan Menjangan sekitar, dan butuh BBM banyak,” Tandasnya.(dna/updatebali)