PLTS 300 MWp Dibangun di Jembrana, Prabowo Targetkan Bali Tinggalkan Pembangkit BBM pada 2028

0
255
Prabowo meresmikan program PLTS 100 GWp di Bali sebagai langkah menuju energi bersih dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar minyak.
Prabowo meresmikan program PLTS 100 GWp di Bali sebagai langkah menuju energi bersih dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar minyak. Sumber foto : Humas Pemprov Bali/updatebali

UPDATEBALI.com, JEMBRANA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt Peak (GWp) sekaligus melakukan peletakan batu pertama proyek PLTS di Site Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026.

Proyek energi terbarukan tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong peralihan sistem kelistrikan Bali dari pembangkit berbahan bakar minyak menuju energi bersih.

Dalam agenda tersebut, Prabowo didampingi Gubernur Bali Wayan Koster, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Bupati dan Wakil Bupati Jembrana, serta sejumlah pejabat lainnya.

PLTS Gilimanuk akan dibangun dengan kapasitas 300 MWp dan dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 1.000 MWh. Investasi proyek ini mencapai Rp9,157 triliun dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 2028.

Baca Juga:  Vaksinasi Jemput Bola, Kelurahan Pemecutan dan Karang Taruna Fasilitasi Vaksinasi  Disabilitas

Pembangkit tersebut nantinya terhubung dengan jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Negara-Gilimanuk. Pengembangannya dilakukan melalui skema Independent Power Producer (IPP).

Keberadaan PLTS Gilimanuk diharapkan menjadi bagian penting dalam upaya pemerintah menghilangkan penggunaan pembangkit berbahan bakar minyak pada sistem kelistrikan Bali.

Dengan kapasitas yang dibangun, PLTS Gilimanuk diproyeksikan menghasilkan energi sekitar 470 GWh setiap tahun. Di sisi lain, pembangkit ini diperkirakan mampu menghemat konsumsi bahan bakar minyak hingga 151 ribu kiloliter per tahun.

Proyek tersebut akan menggunakan lahan sekitar 321 hektare.

Saat meluncurkan Program PLTS 100 GWp, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pembangunan pembangkit energi surya merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mencapai kemandirian energi.

“Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi meluncurkan program pembangkit listrik tenaga surya 100 GWp, diawali dengan 14 PLTS yang tersebar di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Ini merupakan program untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia,” ujar Prabowo.

Baca Juga:  Mendorong Peran Industri dalam Transisi Energi

Presiden optimistis target pembangunan PLTS berkapasitas total 100 GWp tersebut dapat diwujudkan dalam kurun waktu tiga tahun. Bahkan, ia membuka peluang agar target tersebut dapat diselesaikan lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan.

Program nasional itu merupakan bagian dari implementasi Asta Cita, khususnya agenda swasembada energi dan hilirisasi. Tahap awal program ditandai dengan pelaksanaan 14 proyek PLTS yang tersebar di sejumlah wilayah dengan total kapasitas sekitar 5,2 GWp.

Selain PLTS Gilimanuk berkapasitas 300 MWp, proyek yang masuk dalam tahap awal antara lain PLTS Madura 605 MWp, PLTS Cirata 1.250 MWp, PLTS Jatigede 636 MWp, serta PLTS Jatiluhur 1.688 MWp.

Baca Juga:  Prabowo Ingin SMA Taruna Nusantara Setara dengan Sekolah Terbaik Dunia

Sejumlah proyek lainnya saat ini berada dalam tahapan berbeda, mulai dari proses tender, konstruksi, groundbreaking hingga peresmian.

Secara keseluruhan, pengembangan Program PLTS 100 GWp diperkirakan membutuhkan investasi mencapai sekitar Rp1.140 triliun.

Pemerintah juga memperkirakan program tersebut dapat memberikan efisiensi besar terhadap penggunaan bahan bakar minyak. Penghematan biaya BBM diproyeksikan mencapai Rp73,9 triliun setiap tahun.

Dampaknya tidak hanya diarahkan pada sektor ketenagalistrikan. Pengembangan PLTS skala nasional tersebut diperkirakan menciptakan sekitar 3,46 juta lapangan kerja selama tahap konstruksi.

Selain itu, lebih dari 2 juta tenaga kerja diproyeksikan terserap di sektor manufaktur yang berkaitan dengan pengembangan energi surya.

Program tersebut diharapkan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mempercepat transisi Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.(yud/updatebali)