spot_img
spot_img
BerandaBaliBadungPHRI Badung Soroti Krisis Sampah Organik di Sektor Hotel dan Restoran

PHRI Badung Soroti Krisis Sampah Organik di Sektor Hotel dan Restoran

UPDATEBALI.com, BADUNG – Persoalan sampah organik di sektor hotel, restoran dan kafe (Horeka) di Kabupaten Badung kembali menjadi perhatian serius. Jenis sampah ini disebut masih mendominasi hingga 60–70 persen dari total timbulan sampah di kawasan industri pariwisata tersebut.

Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik berpotensi menimbulkan dampak lingkungan seperti bau tidak sedap, munculnya lalat, hingga mengganggu kenyamanan wisatawan yang menjadi andalan sektor pariwisata Bali.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menegaskan bahwa pengelolaan sampah organik merupakan tantangan utama yang harus segera diatasi oleh pelaku industri hotel, restoran, dan kafe.

Baca Juga:  Putri Koster Buka Pameran Tutur Ayu, Ingatkan Pariwisata Bali Tetap Berpijak pada Budaya

“Organik ini hampir 60–70 persen. Ini yang harus segera ditangani, jangan sampai menimbulkan bau, lalat, dan mengganggu kenyamanan serta keamanan,” tegasnya saat ditemui di kawasan Nusa Dua, Selasa 28 April 2026.

Ia menjelaskan, sebagian besar pelaku usaha di sektor horeka saat ini sudah mulai menerapkan sistem pemilahan sampah dari sumber, yakni memisahkan antara sampah organik, anorganik, dan residu. Untuk sampah anorganik, penanganannya relatif lebih tertata karena telah melibatkan pihak ketiga.

Baca Juga:  Tiga Puluh Enam Pasangan Ikuti Kejuaraan Tenis Meja Singaraja Cup 2022

Namun, tantangan terbesar masih berada pada pengelolaan sampah organik yang volumenya sangat besar. Selama ini, pengelolaannya masih mengandalkan jasa transporter swakelola yang kemudian mendistribusikan sampah ke berbagai fasilitas pengolahan.

Untuk mengatasi hal tersebut, PHRI Badung mendorong penerapan sistem pengolahan berbasis kolaborasi atau grouping antarhotel dalam satu kawasan.

“Tidak semua hotel bisa punya alat sendiri. Maka kami dorong sistem grouping, sehingga pengolahan bisa dilakukan bersama dalam satu kawasan,” jelas Agung Rai.

Baca Juga:  Geliatkan Pariwisata, Kemenparekraf Gandeng Pihak Swasta Kembangkan 14 Desa Wisata

Sejumlah hotel di Badung diketahui mulai berinvestasi pada teknologi pengolahan sampah, baik skala kecil maupun modern. Namun, proses pengadaan masih membutuhkan waktu karena harus melalui tahapan pemesanan dan penyesuaian teknis di lapangan.

PHRI berharap model pengelolaan bersama ini dapat mempercepat penyelesaian masalah sampah organik sekaligus menjaga citra pariwisata Badung sebagai destinasi kelas dunia.(den/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments