Penilaian Ogoh-Ogoh di Badung Siap Dimulai, 597 Sekaa Teruna Berkompetisi di Tujuh Zona

0
266
Kepala Dinas Kebudayaan Badung, I Gde Eka Sudarwitha.
Kepala Dinas Kebudayaan Badung, I Gde Eka Sudarwitha. Sumber foto : Kominfo Badung

UPDATEBALI.com, BADUNG — Pemerintah Kabupaten Badung mematangkan pelaksanaan penilaian ogoh-ogoh tingkat zona yang diikuti 597 Sekaa Teruna dan Yowana.

Penilaian lapangan dibagi dalam tujuh zona dan dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 18 hingga 22 Februari mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan Badung, I Gde Eka Sudarwitha, memastikan seluruh tahapan teknis telah dibahas bersama tim juri, termasuk pencermatan kembali aspek dan kriteria penilaian.

Hal tersebut dilakukan mengingat jumlah peserta terus meningkat serta muncul aspirasi agar nilai setiap peserta diumumkan secara terbuka.

Baca Juga:  Denpasar Terima Bantuan Motor Pengangkut Sampah dari PT Pelindo, Bagian dari Program TJSL

“Secara penilaian, sama dari tahun ke tahun. Cuma kami lebih mencermati aspek-aspek atau kriteria penilaian. Dan ada aspirasi agar nilai tiap peserta disampaikan secara terbuka. Saya pikir itu tidak untuk dirahasiakan karena bukan satu yang rahasia menurut Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Makanya kami berdiskusi dengan alot agar kita cermat memberikan penilaian,” ujarnya, Minggu, 15 Februari 2026.

Ia menjelaskan, setiap zona akan dinilai oleh tiga juri sehingga total terdapat 21 juri. Selama empat hari penilaian, masing-masing zona akan menilai sekitar 18 hingga 20 ogoh-ogoh per hari, sehingga proses penilaian dipastikan berlangsung padat dari pagi hingga malam.

Baca Juga:  Jegeg Bagus Badung 2025, Panggung Prestisius Duta Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal

“Karena jadwal penilaian cukup padat, kami mengimbau sekaa teruna dan yowana agar berada di lokasi saat penilaian berlangsung, dan menunggu di tempat. Agar bisa menjelaskan hasil karya ogoh-ogoh yang dibuat,” terangnya.

Dalam aspek penilaian, panitia tetap mengacu pada tiga kriteria utama yakni Satyam, Siwam, dan Sundaram. Unsur Sundaram atau estetika memiliki bobot cukup besar, yakni 5 hingga 50 poin, dengan penekanan pada kreativitas, inovasi, serta teknik konstruksi.

Baca Juga:  Pemerintah Pusat Salurkan Vaksin dan Alkes, Pemkab Jembrana Percepat Penanganan LSD

Panitia juga menegaskan tidak mendikotomikan antara detail anatomi ogoh-ogoh dengan penggunaan motorik, karena keduanya dapat diapresiasi sesuai kekuatan karya.

Selain itu, penggunaan bahan ramah lingkungan turut menjadi bagian penilaian. Pemanfaatan bahan alami maupun barang bekas, seperti limbah botol plastik sekali pakai, dapat memberikan nilai tambah apabila dikemas secara artistik.(adv/ub)