UPDATEBALI.com, DENPASAR – Komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam mendorong transisi energi bersih dan pengembangan kendaraan listrik (e-mobility) kembali ditegaskan melalui kerja sama strategis dengan Pemerintah Korea Selatan.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Jayasabha, Denpasar, Rabu, 9 Juli 2025, Gubernur Bali Wayan Koster menerima laporan langsung dari Ketua Asosiasi Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Budi Setyadi, terkait penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) untuk pengembangan kawasan industri kendaraan listrik berbasis teknologi Korea di Bali.
Langkah konkret tersebut juga ditandai dengan hibah sepeda motor listrik dari Korea Selatan sebagai bagian dari upaya bersama mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2045.
Gubernur Koster menyambut baik inisiatif ini dan menekankan pentingnya percepatan program kendaraan listrik sebagai bagian dari transformasi energi dan pembangunan ekonomi hijau di Bali.
“Bali siap menjadi contoh nasional dalam pengembangan energi bersih dan kendaraan listrik,” tegas Gubernur Koster.
“Saya minta percepatan, dan akan terus saya endorse. Harus ada peningkatan signifikan dalam lima tahun ke depan,” tambahnya.
Program e-mobility kini tengah diuji coba di Kabupaten Gianyar, dengan pelaksana teknis oleh Perumda Kerta Bali Saguna di bawah koordinasi Dinas Perhubungan Provinsi Bali.
Perumda ini bermitra dengan sejumlah lembaga dan perusahaan Korea seperti Korea Automotive Technology Institute (KATECH), Korea Smart E-Mobility Association (KEMA), serta AISMOLI dan PT Inako Pratama Indonesia dari pihak nasional.
MoU yang telah ditandatangani mencakup penyusunan studi kelayakan dan rencana pengembangan industri perakitan kendaraan listrik di Bali.
Kendaraan yang dikembangkan akan mencakup kendaraan operasional pariwisata, kendaraan pembersih pantai, serta kendaraan roda dua untuk kebutuhan masyarakat umum.
Penandatanganan MoU lanjutan dengan perusahaan lokal di Bali dijadwalkan berlangsung pada September 2025, untuk mendukung integrasi desain, proses perakitan, hingga pemanfaatan energi bersih seperti hidrogen dan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya).
Gubernur Koster juga menargetkan sejumlah kawasan menjadi zona rendah emisi (low emission zones), termasuk Kuta, Sanur, Ubud, dan Nusa Penida. Untuk Nusa Penida, ia menegaskan akan mempercepat penggunaan kendaraan listrik dan PLTS secara menyeluruh.
“Kita rancang semuanya bersih, dari hulu hingga hilir,” ujar Gubernur Koster.
Sejalan dengan itu, Pemprov Bali tengah menyusun skema pendanaan dan kemitraan untuk mempercepat program konversi sepeda motor berbahan bakar fosil ke motor listrik. Inisiatif ini juga mendukung peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan selaras dengan kebijakan pemerintah pusat.
Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Bali diposisikan sebagai pionir nasional dalam transisi energi bersih dan pengembangan industri kendaraan listrik. Selain mendorong kemandirian energi, hal ini juga memperkuat citra Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan kelas dunia.(yud/ub)





