Gubernur Koster, Aksi Iklim Bali Jadi Bagian Pembangunan dan Peluang Ekonomi Hijau

0
34
Gubernur Koster, Aksi Iklim Bali Jadi Bagian Pembangunan dan Peluang Ekonomi Hijau
Gubernur Koster, Aksi Iklim Bali Jadi Bagian Pembangunan dan Peluang Ekonomi Hijau. Sumber Foto : Humas Pemprov Bali / Updatebali

UPDATEBALI.com, BADUNG – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa aksi iklim di Bali tidak hanya menjadi respons terhadap perubahan iklim, tetapi juga bagian dari pembangunan daerah yang berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Hal tersebut disampaikan Koster saat memberikan paparan bertajuk “Aksi Iklim Bali: Regulasi, Implementasi, dan Peluang Kolaborasi” dalam Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026 di Hotel Westin Resort, Nusa Dua, Badung, Selasa, 8 September 2026.

Koster menjelaskan, Nangun Sat Kerthi Loka Bali menjadi landasan filosofis pembangunan Bali dalam menjaga kesucian dan keharmonisan alam beserta isinya. Konsep tersebut diarahkan untuk mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia, baik secara niskala maupun sekala.

Dalam kerangka tersebut, aksi iklim Bali dibangun melalui keseimbangan antara Manusia Bali, Alam Bali, dan Kebudayaan Bali. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan daerah.

Manusia Bali diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pembangunan berkelanjutan. Alam Bali dijaga melalui perlindungan hutan, ekosistem pesisir, mangrove, padang lamun, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Sementara Kebudayaan Bali menjadi fondasi nilai, tradisi, dan kearifan lokal dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Koster menyebut Bali saat ini telah memiliki sejumlah aset iklim yang dapat menjadi modal dalam pengembangan ekonomi hijau. Di sektor energi terbarukan, Bali memiliki sekitar 45 MWp PLTS terpasang, 17.225 kendaraan listrik roda dua dan roda empat, serta 302 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di sembilan kabupaten/kota.

Baca Juga:  Sedana Arta Dampingi Gubernur Wayan Koster Letakkan Batu Pertama Pembangunan RSUD dan Gedung PLUT Bangli 

Pada sektor blue carbon, Bali memiliki sekitar 2.330 hektare kawasan mangrove dengan 88 persen di antaranya masuk kategori lebat. Bali juga memiliki sekitar 1.307 hektare padang lamun yang dinilai berpotensi dikembangkan menjadi blue carbon credit dengan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain itu, sekitar 52.909 hektare sawah di Bali telah menerapkan sistem pertanian organik atau sekitar 82 persen dari total luas sawah. Kondisi tersebut menjadi modal dalam pengembangan soil carbon dan biodiversity credits.

Di sektor kehutanan, Bali memiliki sekitar 131.171 hektare kawasan hutan, terdiri atas sekitar 96.688 hektare hutan lindung dan 26.396 hektare kawasan konservasi. Kawasan tersebut berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan fungsi ekosistem dalam menyerap karbon.

Menurut Koster, berbagai aset tersebut tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi aset ekonomi baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat Bali.

“Berbagai aset tersebut bukan sekadar angka atau potensi ekologis, tetapi dapat dikembangkan menjadi aset ekonomi baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat Bali, sepanjang dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, tata kelola yang baik, dan tidak mengorbankan kelestarian lingkungan,” ujar Koster.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Bali membuka tiga peluang kolaborasi karbon yang dinilai bankable, yakni blue carbon melalui pengembangan mangrove dan padang lamun, solar energy melalui pembangunan PLTS skala besar, serta agricultural carbon melalui pengembangan pertanian organik dan soil carbon.

Baca Juga:  Astra Motor Bali Cetak Talenta Unggul Lewat FeVoSH 2026 Tingkat Regional

Untuk PLTS skala besar, Bali membuka peluang pengembangan dengan target tahap pertama sekitar 300 MWp. Kapasitas tersebut selanjutnya dapat dikembangkan hingga 700–1.200 MWp. Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung transisi energi sekaligus menciptakan peluang renewable energy certificate dan carbon credit.

Koster menegaskan Bali membutuhkan kolaborasi dengan investor, pengembang proyek, lembaga standar internasional, akademisi, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Namun, ia menekankan kolaborasi harus tetap berada dalam kerangka regulasi dan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali. Hal ini diperlukan untuk memberikan kepastian, menjaga kepentingan masyarakat, serta memastikan manfaat ekonomi dari pengembangan karbon dapat kembali kepada Bali.

Menurut Koster, aksi iklim Bali tidak berhenti pada upaya mengurangi emisi. Program tersebut juga diarahkan untuk menciptakan peluang ekonomi baru, memperkuat ketahanan lingkungan, menjaga keanekaragaman hayati, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Bali ingin menunjukkan bahwa menjaga alam bukan hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Justru dengan menjaga alam, kita membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Melalui pendekatan tersebut, Nangun Sat Kerthi Loka Bali tidak hanya menjadi filosofi pembangunan, tetapi juga menjadi landasan untuk membangun Bali yang hijau, mandiri, berkelanjutan, dan memiliki daya saing global.

Sementara itu, Chairman Indonesia Carbon Credit and Biodiversity Alliance (ICCBA) Rob Raffael Kardinal mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun fondasi kebijakan serta menyiapkan berbagai aset nyata untuk dikembangkan dalam ekosistem karbon dan keanekaragaman hayati.

Baca Juga:  Kolaborasi Seni dan Fashion, Bali Fashion Network 2025 Gaungkan Mode Ramah Lingkungan

Menurut Rob, Bali memiliki potensi besar menjadi salah satu contoh pengembangan ekonomi berbasis karbon dan biodiversitas yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Potensi mangrove, padang lamun, pertanian organik, energi terbarukan, serta kawasan hutan dapat dikembangkan melalui kolaborasi multipihak dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan manfaat bagi masyarakat.

“Bali memiliki sesuatu yang sangat kuat, yaitu kombinasi antara alam, budaya, kebijakan, dan masyarakat. Ini menjadi modal penting untuk membangun ekosistem karbon dan biodiversitas yang kredibel,” ujar Rob.

Ia menilai Bali tidak hanya berpotensi menghasilkan carbon credit, tetapi juga dapat menjadi contoh pengembangan carbon credit dan biodiversity credit yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Rob menambahkan, kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, investor, lembaga standar, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk mewujudkan potensi tersebut menjadi proyek yang konkret, terukur, serta memenuhi standar internasional.

“Kami siap mendorong kolaborasi dan mempertemukan Bali dengan berbagai mitra strategis, baik nasional maupun internasional. Harapannya, apa yang dikembangkan di Bali dapat menjadi model yang tidak hanya bermanfaat bagi Bali dan Indonesia, tetapi juga dapat direplikasi di berbagai wilayah dan negara lain,” tambahnya. (yud/updatebali)