UPDATEBALI.com, DENPASAR – Menjaga tubuh tetap aktif secara fisik menjadi faktor penting bagi perempuan, khususnya saat memasuki usia paruh baya. Para peneliti kesehatan menegaskan bahwa olahraga rutin mampu membantu mencegah penurunan massa otot akibat perubahan hormon selama masa menopause sekaligus meningkatkan kualitas hidup jangka panjang.
Memasuki awal tahun, olahraga sering menjadi resolusi populer. Pusat kebugaran dipadati pengunjung dan aplikasi kesehatan mengalami peningkatan pengguna. Namun, mempertahankan kebiasaan aktif ternyata menjadi tantangan terbesar, terutama bagi perempuan usia 40 hingga 50 tahun.
Hal tersebut diungkapkan oleh Yvonne C Learmonth adalah fisioterapis peneliti dan Associate Professor di Sekolah Ilmu Kesehatan Universitas New South Wales, Program Studi Fisioterapi.
Yvonne C Learmonth menjelaskan, aktivitas fisik mencakup berbagai gerakan yang menggunakan energi, mulai dari berjalan kaki, bersepeda, hingga pekerjaan rumah tangga. Sementara itu, olahraga merupakan aktivitas fisik yang dilakukan secara terstruktur dengan tujuan meningkatkan kebugaran, seperti jogging, latihan kekuatan, atau latihan kardio.
Penelitian menunjukkan perempuan cenderung mengalami penurunan aktivitas fisik saat memasuki usia pertengahan, justru pada fase ketika tubuh membutuhkan latihan lebih banyak.
“Pada periode ini, perubahan hormon akibat menopause menyebabkan massa dan kekuatan otot menurun lebih cepat dibandingkan laki-laki,” jelasnya.
Yvonne C Learmonth menyebutkan bahwa kekuatan otot manusia mencapai puncaknya sekitar usia 25 tahun, lalu perlahan menurun seiring bertambahnya usia. Namun pada perempuan, penurunan tersebut dapat berlangsung lebih drastis antara usia 40 hingga 50 tahun karena berkurangnya hormon estrogen dan progesteron.
Latihan resistensi seperti angkat beban atau penggunaan resistance band disebut sebagai metode paling efektif untuk menjaga kekuatan otot. Selain meningkatkan stabilitas tubuh, latihan ini juga membantu menurunkan risiko penyakit kronis, mencegah jatuh di usia lanjut, serta mendukung kemandirian hidup.
Tantangan terbesar bagi perempuan di usia pertengahan umumnya berasal dari faktor sosial dan peran ganda. Tanggung jawab pekerjaan, mengurus anak, hingga merawat orang tua sering membuat waktu olahraga menjadi terbatas. Kondisi tersebut diperparah oleh menurunnya energi dan rasa percaya diri.
Bagi perempuan dengan disabilitas, hambatan tersebut bisa menjadi lebih kompleks. Salah satu contohnya adalah penderita Multiple Sclerosis (MS), gangguan neurologis yang lebih banyak dialami perempuan dibanding laki-laki. Gejalanya meliputi kelelahan, gangguan keseimbangan, kelemahan otot, hingga kesulitan berjalan.
“Meski belum memiliki obat penyembuh, sejumlah studi terbaru menunjukkan olahraga berperan penting dalam membantu mengelola gejala MS. Latihan aerobik, kekuatan, serta keseimbangan terbukti mampu meningkatkan mobilitas, mengurangi kelelahan, dan memperbaiki kesehatan mental penderita,” ungkapnya.
Para peneliti menekankan bahwa olahraga aman dilakukan oleh penyandang MS selama dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan individu. Pendampingan fisioterapis maupun ahli olahraga dianjurkan agar program latihan berjalan efektif dan aman.
Selain faktor individu, dukungan lingkungan juga dinilai berpengaruh besar. Program kebugaran berbasis komunitas yang inklusif, terjangkau, dan mudah diakses terbukti meningkatkan partisipasi perempuan untuk tetap aktif secara fisik.
Ahli kesehatan merekomendasikan adanya pelatihan khusus bagi instruktur kebugaran agar mampu mendampingi peserta dengan kebutuhan berbeda, termasuk penyandang disabilitas. Dukungan kebijakan dan pembiayaan juga dianggap penting untuk membuka akses lebih luas terhadap fasilitas olahraga.
Dengan pendekatan yang tepat, aktivitas fisik tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidup sehat, tetapi juga strategi penting untuk menjaga kesehatan perempuan sepanjang usia.
Diterbitkan pertama kali di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.(*/ub)





