UPDATEBALI.com, DENPASAR – Pj. Gubernur Bali, S.M. Mahendra Jaya, memimpin High Level Meeting (HLM) TPID Provinsi Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, pada Jumat 3 Mei 2024.
Dalam pertemuan tersebut, Mahendra Jaya menguraikan perkembangan inflasi di Bali dan menyoroti pentingnya penggunaan tanah provinsi untuk menanam bahan pangan guna menekan inflasi.
Hadir dalam rapat tersebut Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Kepala BPS Provinsi Bali, Kepala Bulog Provinsi Bali, serta sejumlah Kepala Perangkat Daerah terkait.
Mahendra Jaya menjelaskan bahwa inflasi di Bali pada bulan April 2024 mencapai 4,02% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan oleh sejumlah hari raya keagamaan yang bertepatan pada bulan yang sama, serta kenaikan harga akibat keterbatasan komoditas.
“Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Tabanan, disusul oleh Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Buleleng,” jelas Mahendra Jaya.
Menyikapi kondisi ini, Mahendra Jaya menekankan pentingnya pengendalian inflasi untuk menjaga stabilitas ekonomi Bali.
“Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
Dalam upaya pengendalian inflasi, Mahendra Jaya menggarisbawahi empat strategi utama, yaitu menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif antar wilayah. Konsep “Ngrombo” Satu Hati, Satu Kata, dan Satu Tindakan bersama-sama antar Provinsi dan Kabupaten/Kota juga menjadi fokus dalam menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi.
Kepala Bulog Provinsi Bali, Sony Supriyadi, menjelaskan upaya yang dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan stok di kompleks pergudangan Bulog Wilayah Bali. Salah satu langkahnya adalah pengadaan beras dalam negeri dan pemindahan stok dari gudang Bulog terdekat dengan wilayah Bali.
Kepala BPS Provinsi Bali, Endang Retno Sri Subiyandani, menyoroti bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu menjadi penyumbang utama inflasi di Bali.
Sementara Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menambahkan bahwa harga beras diperkirakan mengalami defisit sekitar 450 ton nasional.
Dalam penutupan pertemuan, Mahendra Jaya mengingatkan pentingnya menanam bahan pangan secara serempak di seluruh Bali. Ia mendorong penggunaan lahan milik Pemprov (Hak Guna Pakai) untuk menanam aneka bahan pangan, sehingga setiap Kabupaten dapat saling bertukar bahan pangan yang diperlukan oleh warganya.(yud/ub)





