Wakatobi Ingin Tiru Strategi Bali Kembangkan Produk Lokal untuk Pariwisata

0
116
Pengembangan produk lokal menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Wakatobi saat menggali pengalaman Bali dalam mengelola sektor pariwisata.
Pengembangan produk lokal menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Wakatobi saat menggali pengalaman Bali dalam mengelola sektor pariwisata. Sumber foto: Humas Pemprov Bali/Updatebali

UPDATEBALI.com, DENPASAR — Pengembangan produk lokal menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Wakatobi saat menggali pengalaman Bali dalam mengelola sektor pariwisata.

Bupati Wakatobi Haliana menyatakan keinginannya mempelajari kebijakan Bali yang dinilai mampu menghubungkan potensi lokal dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Haliana ketika bertemu Gubernur Bali Wayan Koster di Rumah Jabatan Jaya Sabha, Denpasar, Rabu 26 Agustus 2026 siang.

Dalam pertemuan tersebut, Koster membagikan sejumlah pengalaman Bali dalam mengembangkan komoditas daerah. Salah satu yang dibahas adalah pengelolaan arak Bali yang kini diarahkan menjadi produk lokal bernilai ekonomi dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.

“Jangan dilarang, tapi kita atur,” tegas Koster.

Menurut Koster, perkembangan produksi arak Bali menunjukkan bahwa produk tradisional daerah memiliki peluang untuk bersaing di pasar yang lebih luas. Pemerintah Provinsi Bali memberikan ruang bagi produksi secara legal dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan regulasi.

Baca Juga:  Mendagri: Wayan Koster Pemimpin Kuat dengan Konsep Pembangunan Bali  

Pengelolaan tersebut mencakup sejumlah tahapan, mulai dari perizinan, pengemasan, pelabelan hingga mekanisme distribusi. Penjualan pun diarahkan melalui koperasi dan distributor resmi.

“Kita tidak memberikan izin untuk korporasi besar. Kita fasilitasi UMKM lokal Bali untuk mengambil bagian,” ujar Koster.

Kebijakan mengenai arak Bali tersebut mengacu pada Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Aturan itu menjadi salah satu landasan dalam menata sekaligus melindungi produk khas Bali, termasuk arak, brem, dan tuak.

Koster juga mencontohkan perkembangan pemasaran arak Bali di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Produk tersebut dipasarkan melalui gerai kedatangan maupun keberangkatan dan disebut memiliki tingkat penjualan yang cukup tinggi.

Selain minuman tradisional, Koster menyampaikan potensi komoditas lain yang dapat dikembangkan, salah satunya garam lokal Bali. Produk tersebut dinilai memiliki kualitas yang baik sehingga berpeluang menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.

Baca Juga:  QRIS Percepat Pemulihan Ekonomi Bali

Pengalaman tersebut menjadi gambaran bagi Wakatobi bahwa produk lokal dapat dikembangkan lebih jauh apabila didukung kebijakan yang tepat, pemasaran yang kuat, serta keterlibatan pelaku usaha masyarakat.

Tidak hanya produk lokal, Koster juga mengingatkan pentingnya memperkuat konsep paket wisata Wakatobi. Menurutnya, paket wisata harus menawarkan pengalaman yang jelas dan didukung berbagai fasilitas penunjang.

“Kita bisa berlakukan paket pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan ke Wakatobi. Harus ada objek yang ditawarkan, hotel, restoran, dan destinasi yang indah,” jelas Koster.

Bupati Wakatobi Haliana mengatakan konektivitas antara Wakatobi dan Bali menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan pariwisata kedua daerah.

Saat ini, Wakatobi telah memiliki penerbangan langsung menuju Bali sebanyak dua kali dalam sepekan. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk memperluas kerja sama sekaligus membuka peluang kunjungan wisatawan.

Baca Juga:  Sambut Rakor HKG PKK 2026, TP PKK Badung Tegaskan Komitmen Dukung Kesejahteraan Keluarga

“Program yang bagus di Bali bisa kita implementasikan juga di Wakatobi,” kata Haliana.

Haliana mengakui Bali memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan pariwisata hingga dikenal sebagai salah satu destinasi dunia. Karena itu, pihaknya ingin mempelajari berbagai kebijakan Bali, termasuk cara mengoptimalkan produk lokal untuk mendukung sektor pariwisata.

“Saya mohon izin ke Pak Gubernur, kita nanti akan studi banding terkait pemanfaatan produk lokal,” ujarnya.

Pertemuan tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara Bali dan Wakatobi. Selain pertukaran pengalaman di bidang pariwisata, kerja sama juga berpotensi diarahkan pada pengembangan produk lokal berbasis masyarakat.

Bagi Wakatobi, pengalaman Bali dalam mengemas produk tradisional menjadi komoditas bernilai ekonomi menjadi salah satu referensi yang dapat dipelajari dan disesuaikan dengan karakter serta potensi daerahnya.(yud/updatebali)