UPDATEBALI.com, JAKARTA – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia pada triwulan I 2026 tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam keterangan resmi KSSK Nomor 02/KSSK/Pers/2026 yang dirilis 7 Mei 2026, disebutkan bahwa volatilitas pasar keuangan global meningkat seiring lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok dunia akibat konflik geopolitik.
KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dan mitigasi risiko guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Di tengah tekanan global tersebut, perekonomian Indonesia justru mencatat pertumbuhan kuat. Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen year on year (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 5,39 persen yoy.
Pertumbuhan itu didorong akselerasi belanja pemerintah, peningkatan konsumsi rumah tangga, serta investasi yang mulai bergerak melalui proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur prioritas nasional.
Program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Sekolah Rakyat, hingga penguatan bantuan sosial disebut turut menopang daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi domestik.
KSSK juga mencatat inflasi nasional tetap terkendali dalam sasaran pemerintah. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen yoy, turun dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 3,48 persen yoy.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah masih berada dalam kondisi relatif stabil meski menghadapi tekanan global. Pada akhir Maret 2026, Rupiah berada di level Rp16.995 per dolar AS dan bergerak di kisaran Rp17.415 per dolar AS pada 5 Mei 2026.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar valuta asing, penguatan instrumen moneter, serta menjaga kecukupan likuiditas domestik.
Di sektor perbankan, kinerja intermediasi tetap tumbuh positif. Kredit perbankan pada Maret 2026 meningkat 9,49 persen yoy menjadi Rp8.659 triliun, dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tetap terjaga di level 2,1 persen.
Ketahanan perbankan juga dinilai kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 25,09 persen, jauh di atas ambang batas minimum.
Pasar modal nasional sempat mengalami tekanan akibat sentimen global, namun mulai menunjukkan pemulihan memasuki Mei 2026. IHSG ditutup di level 7.057,11 per 5 Mei 2026 dan penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp59,35 triliun secara year to date.
KSSK menegaskan pemerintah bersama BI, OJK, dan LPS akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Selain itu, KSSK juga memastikan komitmen mendukung program prioritas pemerintah serta mempercepat penyelesaian regulasi turunan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Rapat berkala KSSK berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026.(yud/ub)





