Wastra Bali Bidik Panggung Dunia, Putri Koster Ungkap Konsep Satu Jiwa, Tiga Rupa

0
122
Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Koster, memperkenalkan konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa” sebagai pendekatan untuk menjaga warisan wastra sekaligus menjadikannya bagian dari kekuatan industri kreatif Bali.
Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Koster, memperkenalkan konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa” sebagai pendekatan untuk menjaga warisan wastra sekaligus menjadikannya bagian dari kekuatan industri kreatif Bali. Sumber foto: Humas Pemprov Bali/Updatebali

UPDATEBALI.com, JEMBRANA – Upaya membawa wastra Bali keluar dari sekadar produk budaya terus didorong Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, memperkenalkan konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa” sebagai pendekatan untuk menjaga warisan wastra sekaligus menjadikannya bagian dari kekuatan industri kreatif Bali.

Konsep tersebut disampaikan saat Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” yang berlangsung di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Kamis 27 Agustus 2026.

Menurut Putri Koster, pengembangan wastra membutuhkan kesinambungan antara pelestarian budaya, kreativitas, dan penguatan industri. Karena itu, Dekranasda Bali menjalankan tiga agenda fashion, yakni Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show.

Ketiga program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem mode yang bertumpu pada kekayaan wastra Bali sekaligus menciptakan warisan atau legacy bagi perkembangan industri fashion di Pulau Dewata.

“Dekranasda Provinsi Bali ingin mendapatkan legacy terkait dengan fashion di Pulau Bali. Astungkara, ke depannya Bali bisa menjadi pusat mode dunia. Ini harus kita lakukan secara kontinu dan konsisten,” ujarnya.

Pelaksanaan Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana menjadi agenda ketiga setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Lebih dari sekadar pertunjukan busana, kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperkenalkan arah pengembangan wastra Bali agar dapat berkembang dalam industri mode.

Putri Koster menjelaskan, target membawa wastra Bali ke pasar global tidak cukup hanya mengandalkan desain yang menarik. Produk tersebut harus memiliki identitas yang kuat dan tetap berakar pada seni serta budaya Bali.

Dalam konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa”, satu jiwa berasal dari kekayaan seni dan estetika Bali. Sementara tiga rupa yang menjadi penggeraknya adalah seni, bisnis, dan politik kebudayaan.

“Satu jiwa itu muncul dari rasa seni dan estetika masyarakat Bali, baik dari leluhur kita maupun generasi muda yang ada saat ini, yang diwujudkan dalam bentuk wastra tradisional. Kemudian ada tiga rupa yang bisa memunculkan, mengagungkan, dan memuliakan wastra kita, yaitu seni, bisnis, dan politik kebudayaan,” jelasnya.

Baca Juga:  Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga, OJK Pastikan Perbankan Siap Hadapi Risiko Global

Rupa pertama adalah seni. Menurut Putri Koster, seni menjadi unsur yang memberikan karakter pada wastra Bali. Motif, proses pembuatan, hingga ikatan pada kain tradisional tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga membawa filosofi dan identitas masyarakat Bali.

“Seni yang memberi roh dan jiwa dari kain-kain dalam ikatan itu. Di dalamnya mengandung filosofi kuat sebagai anak Bali yang mewakili tanah Bali, yang konon adalah Pulau Dewata, pulau kesenian. Seni akan mengangkat sehingga kain itu punya taksu. Itulah yang membedakan tenun tradisional dengan bahan tekstil pabrikan yang begitu dingin,” ungkapnya.

Rupa kedua adalah bisnis. Wastra, kata dia, harus mampu berkembang sebagai produk bernilai ekonomi. Pelestarian tidak boleh berhenti pada upaya menjaga tradisi, tetapi harus mampu memberikan dampak terhadap kehidupan para perajin.

Peningkatan nilai jual wastra diharapkan dapat memberikan kesejahteraan yang lebih baik kepada penenun di desa-desa. Kondisi tersebut juga dinilai penting untuk mendorong munculnya generasi penerus sehingga tradisi menenun tetap bertahan.

Sementara rupa ketiga adalah politik kebudayaan. Pemerintah memiliki peran untuk memastikan warisan budaya tersebut mendapat perlindungan melalui kebijakan dan regulasi.

“Politik kebudayaan ini menjadi pemungkas dari semuanya karena di dalamnya ada aturan-aturan hukum. Bila kain tenun ini tidak kita lindungi dengan aturan hukum, maka akan hilang,” tegasnya.

Ia menilai perlindungan hukum menjadi salah satu fondasi penting agar wastra Bali tidak kehilangan identitas ketika masuk ke dalam persaingan industri dan pasar yang lebih luas.

“Perekonomian tidak akan terjaga jika tidak ada aturan. Karena dalam dunia bisnis seperti hutan rimba. Kain-kain kita akan menjadi terpuruk dan turun kastanya, tidak punya roh dan taksu-nya,” katanya.

Baca Juga:  TP Posyandu Bali Gelar Aksi Membina dan Berbagi, Perkuat 117 Kader di Karangasem

Karena itu, Putri Koster mengajak seluruh pihak untuk tidak menjalankan pelestarian wastra secara sesaat. Menurutnya, keberlanjutan membutuhkan kerja bersama dan dilakukan secara konsisten.

“Mari kita tenun sepenuh jiwa dan kita lestarikan. Syaratnya harus kontinu dan konsisten. Mari bergerak bersama,” ajaknya.

Jembrana juga mendapat perhatian khusus dalam pengembangan ekosistem fashion berbasis wastra. Putri Koster berharap daerah tersebut melahirkan lebih banyak desainer lokal yang memiliki kemampuan untuk membawa karya berbasis budaya Jembrana ke pasar nasional hingga internasional.

“Di Jembrana saya ingin tumbuh lagi desainer-desainer lokal yang kemampuannya mengglobal. Kalau itu tumbuh, maka akan terbangun ekosistem,” ujarnya.

Ketua Dekranasda Kabupaten Jembrana, Ani Setiawarini Kembang Hartawan, mengapresiasi pelaksanaan Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di wilayahnya. Ia menilai kehadiran kegiatan tersebut memberikan ruang bagi pelaku kreatif lokal untuk memperluas jejaring dan mengembangkan produk.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Dekranasda Jembrana, ini merupakan suatu kehormatan bagi Kabupaten Jembrana karena dapat menjadi bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show ‘Wastra Hita Kara’,” ungkapnya.

Menurut Ani, pertemuan antara desainer, pelaku IKM, pelaku usaha dan berbagai pihak lainnya dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Hal tersebut diharapkan berdampak pada peningkatan nilai produk sekaligus kesejahteraan pelaku usaha dan perajin.

“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat menjadi momentum dalam mempertemukan para desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya sehingga tercipta kolaborasi yang berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan para perajin dan pelaku UMKM,” ujarnya.

Jembrana memiliki sejumlah kekayaan budaya yang terus dikembangkan sebagai identitas daerah. Salah satunya adalah penggunaan cepaka purih yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.

Baca Juga:  Bulan Bahasa Bali ke-8 di Buleleng, Enam Lomba Libatkan Pelajar hingga Prajuru Adat

Dekranasda Jembrana juga telah menetapkan Duta Tenun Jembrana. Kehadiran duta tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi simbol, tetapi turut berperan dalam memberikan edukasi kepada generasi muda sekaligus memperkenalkan produk tenun Jembrana kepada khalayak yang lebih luas.

“Kami harap melalui Dekranasda Bali Fashion Road Show ini akan semakin banyak para perajin yang semakin naik dan berkelas serta mampu berkancah di tingkat nasional maupun internasional,” harap Ani.

Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana turut menjadi panggung bagi tujuh desainer untuk menampilkan karya mereka. Ketujuhnya yakni Busana Adat AAA Turah Mayun, Body N Mine, Urban Etnik, Kacarita, Deluxe, Luh Jaum, dan Taksu.

Rangkaian peragaan busana semakin semarak dengan penampilan musik dari Gus Teja.

Tidak hanya fashion show, pengunjung juga dapat melihat langsung berbagai produk lokal melalui pameran IKM dan UKM.

Sebanyak 11 IKM berpartisipasi, yaitu Putri Mas Collection, Kembar Sari, Arca Collection, Ani Galery, Caka Kembang, Bali Rajut, Linggasari, Ariati Embroidery & Handlace, Butik Jepun, Surya Putra, dan Dana Jaya.

Sementara sektor kuliner diisi 10 UKM, yakni Sibabui, Warung Bu Alit, Lumpia Potong Tugu, Kopi Kelana, Jamu Kunyit Asam, Uma Pia Kasih, Umah Tuak, Sambal Gorlin, Bakii, dan JeCo.

Melalui kegiatan tersebut, Dekranasda Bali dan Dekranasda Jembrana berupaya memperkuat mata rantai industri mode yang menjadikan budaya sebagai fondasi. Perpaduan antara seni sebagai jiwa, bisnis sebagai penggerak ekonomi, dan politik kebudayaan sebagai pelindung diharapkan mampu membawa wastra Bali berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Dengan ekosistem yang semakin kuat, wastra Bali diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan leluhur, tetapi juga tumbuh menjadi produk kreatif yang membuka peluang kesejahteraan bagi perajin dan mampu memperkenalkan identitas Bali di panggung mode nasional maupun global.(yud/updatebali)