Wali Kota Denpasar Turut Ngayah Nyangging dalam Metatah Massal Desa Adat Panjer, Diikuti 266 Peserta

0
88
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat ngayah nyangging dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu (29/8/2026).
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat ngayah nyangging dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu (29/8/2026). Sumber foto: Humas Denpasar/Updatebali

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Suasana kebersamaan dan gotong royong terlihat dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu 29 Agustus 2026.

Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut hadir sekaligus ngayah nyangging dalam rangkaian upacara tersebut.

Metatah Massal ini menjadi bagian dari pelaksanaan Karya Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya Atma Wedana (Nyekah Kurung Nyatur Muka) yang diselenggarakan Desa Adat Panjer. Pelaksanaan karya secara massal tersebut sekaligus menjadi upaya desa adat untuk membantu masyarakat dalam menjalankan kewajiban keagamaan tanpa harus menanggung biaya besar secara mandiri.

Sejumlah tokoh turut hadir mendampingi pelaksanaan kegiatan. Di antaranya Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, anggota DPD RI IB Rai Dharmawijaya Mantra, anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, serta tokoh masyarakat Kota Denpasar.

Jaya Negara mengapresiasi pelaksanaan karya yang dilakukan secara bersama-sama oleh jajaran Desa Adat Panjer dan krama. Menurutnya, semangat tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kebersamaan di tengah masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Kota Denpasar, kami mengucapkan terima kasih kepada Jero Bendesa Adat Panjer beserta seluruh jajaran yang telah melaksanakan karya ini. Ini merupakan wujud dharma, termasuk dharmaning negara, melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Denpasar dengan Desa Adat Panjer,” ujar Jaya Negara.

Baca Juga:  Wawali Denpasar Apresiasi PHDI, Dorong Pelestarian Tradisi Hindu Lewat Yadnya Massal

Ia menilai pelaksanaan upacara secara massal menunjukkan bentuk kolaborasi yang nyata antara pemerintah dan desa adat. Skema tersebut juga dapat membantu masyarakat dalam menjalankan swadharma keagamaan.

Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kota Denpasar mengalokasikan dana sebesar Rp1 miliar untuk membantu penyelenggaraan karya tersebut. Sementara kebutuhan lainnya dipenuhi melalui semangat gotong royong.

“Walaupun bantuan ini tidak maksimal, kami memberikan dukungan sebesar Rp1 miliar, sementara kekurangannya dilaksanakan secara gotong royong. Saya kira tidak ada masyarakat yang mengeluarkan biaya. Mudah-mudahan pola seperti ini bisa kita bangun, tidak hanya di bidang spiritual dan mental, tetapi juga dalam berbagai bidang lainnya, sehingga harmonisasi dapat kita bangun di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.

Jaya Negara berharap budaya gotong royong dan rasa kebersamaan seperti yang terlihat dalam pelaksanaan karya tersebut dapat terus dipertahankan. Menurutnya, nilai tersebut semakin penting seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat.

Bendesa Adat Panjer, AA Ketut Oka Adnyana, menjelaskan bahwa penyelenggaraan karya tersebut merupakan bentuk komitmen Desa Adat Panjer dalam membantu krama menjalankan kewajiban keagamaan sekaligus mengurangi beban pembiayaan upacara.

Baca Juga:  D’Youth Fest 5.0 Berakhir Meriah, Jaya Negara: Kreativitas Anak Muda Tak Boleh Padam

Rangkaian kegiatan sebelumnya telah dimulai dengan pelaksanaan Pitra Yadnya berupa upacara Warak Kururon, Ngelungah, dan Nglangkir pada 24 dan 25 Mei 2026. Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan Metatah atau Mesangih Massal dan persiapan menuju Atma Wedana atau Memukur.

“Upacara Atma Wedana ini bertujuan untuk meningkatkan penyucian roh pitara menuju Sunia Loka. Namun sebelum puncak Memukur dilaksanakan, kami menyelenggarakan upacara Metatah Massal,” ujar Oka Adnyana.

Untuk pelaksanaan Metatah Massal tahun ini, tercatat sebanyak 266 peserta mengikuti prosesi. Sementara upacara Memukur dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026 dengan jumlah peserta mencapai 212 puspa.

Peserta tidak terbatas bagi krama Desa Adat Panjer. Masyarakat yang berada di luar wilayah Desa Adat Panjer juga diberikan kesempatan untuk mengikuti pelaksanaan upacara tersebut.

Jumlah peserta tahun ini menjadi salah satu yang terbesar selama karya yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali tersebut digelar.

Oka Adnyana menegaskan seluruh pelaksanaan rangkaian upacara dilakukan tanpa memungut biaya dari krama. Pembiayaan kegiatan ditanggung melalui kas Desa Adat Panjer, LPD, serta sejumlah unit usaha yang berada di bawah pengelolaan desa adat.

Baca Juga:  Bupati Badung Hadiri Karya Pitra Yadnya, Manusa Yadnya dan Atma Wedana di Desa Adat Jimbaran

Selain sumber pembiayaan tersebut, Pemerintah Kota Denpasar turut memberikan bantuan senilai Rp1 miliar untuk mendukung pelaksanaan karya.

“Krama tidak dibebani biaya alias gratis. Kami tidak menetapkan standar biaya sama sekali. Hanya memberikan punia, kami persilakan seikhlasnya sebagai wujud rasa syukur,” ungkapnya.

Ia berharap seluruh peserta dapat menjalani rangkaian upacara dengan pikiran dan hati yang tenang serta tetap berpegang pada nilai-nilai Tri Kaya Parisudha. Nilai tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman dalam mengendalikan hawa nafsu maupun Sad Ripu yang terdapat dalam diri manusia.

Pelaksanaan karya yang digelar setiap empat tahun sekali ini juga diharapkan terus mendapatkan dukungan masyarakat. Dengan penyelenggaraan upacara secara massal dan pembiayaan yang ditanggung desa adat, krama diharapkan tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk melaksanakan kewajiban keagamaan secara mandiri.

Selain Jaya Negara, partisipasi dalam kegiatan juga ditunjukkan anggota DPD RI IB Rai Dharmawijaya Mantra dan anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya. Keduanya turut ngayah nyangging sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan yadnya yang digelar Desa Adat Panjer.(per/updatebali)