UPDATEBALI.com, BULELENG – Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna menekankan pentingnya kolaborasi antar OPD dalam menurunkan angka stunting, khususnya pada balita, menyusul peningkatan kasus stunting yang tercatat dalam Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.
Hal ini disampaikan saat Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Provinsi Bali bersama TPPS Kabupaten Buleleng, di Ruang Rapat Bappeda, Rabu 24 September 2025.
Wabup Supriatna mengingatkan target Rencana Pembangunan Daerah (RPD) Buleleng 2023-2026 terkait stunting, yaitu menurunkan angka stunting dari 8,9% pada 2021 menjadi 5% pada 2026.
“Hasil SSGI 2024 menunjukkan angka 14,8%, ini cukup tinggi. Saya minta seluruh OPD yang tergabung dalam TPPS bekerja sama dan segera mengambil langkah strategis untuk menurunkan angka stunting di Buleleng,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa penyusunan anggaran 2026 harus memprioritaskan program-program percepatan penurunan stunting agar dapat diimplementasikan secara maksimal.
Sementara itu, Kepala Bidang Penataan Penduduk dan Keluarga Berencana DPMDDUKCAPIL Provinsi Bali, I Ketut Merta, menyampaikan bahwa target prevalensi stunting di Bali pada 2025 ditetapkan sebesar 8,7%, meski terjadi peningkatan 1,5% dari tahun sebelumnya.
“Permasalahan stunting dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi, pengetahuan kesehatan, hingga sanitasi lingkungan. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara komprehensif melalui intervensi spesifik dan sensitif,” jelasnya.
Merta menekankan pentingnya penguatan Posyandu, pemberdayaan keluarga melalui PKK, peningkatan akses air bersih dan sanitasi, serta edukasi pola makan dan gizi berbasis kearifan lokal.
“Kami mengajak semua elemen masyarakat, pemerintah, swasta, tokoh masyarakat, dan akademisi untuk bersinergi mewujudkan Bali bebas stunting,” pungkasnya.(adv/ub)





