UMKM Jadi Sorotan, Gubernur Bali Minta Nusa Dua Eco Market Beri Manfaat Ekonomi Nyata

0
313
Gubernur Bali Wayan Koster membuka BRIMo Nusa Dua Eco Market 2026 dan menegaskan agar kegiatan ini memberi dampak ekonomi langsung bagi UMKM serta memperkuat pariwisata Bali yang berkelanjutan.
Gubernur Bali Wayan Koster membuka BRIMo Nusa Dua Eco Market 2026 dan menegaskan agar kegiatan ini memberi dampak ekonomi langsung bagi UMKM serta memperkuat pariwisata Bali yang berkelanjutan. Sumber foto : Humas Pemprov Bali

UPDATEBALI.com, BADUNG – Gubernur Bali Wayan Koster mendorong penyelenggaraan Nusa Dua Eco Market tidak sekadar menjadi kegiatan hiburan bagi wisatawan, tetapi juga mampu menciptakan transaksi nyata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Hal itu disampaikan Koster saat membuka BRIMo Nusa Dua Eco Market 2026 di Sidewalk Pulau Peninsula, kawasan The Nusa Dua, Badung, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, 8–9 Agustus 2026.

Pembukaan ditandai dengan prosesi menimbulkan alu ke lesung. Koster hadir bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Direktur Operasi ITDC Troy Reza Waroka, serta Sub Brand Office Head Nusa Dua Risan Hanuraga.

Koster menilai keberadaan Eco Market menjadi bentuk interaksi antara kawasan pariwisata dengan masyarakat sekitar dan wisatawan. Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat memberikan alternatif aktivitas bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana di luar hotel.

“Ini sangat bagus, ini cara ITDC berinteraksi dengan wisatawan dan juga masyarakat di kawasan ini, terutama masyarakat Desa Bualu, agar lebih ramah dengan masyarakat dan juga memberikan wahana yang hidup bagi wisatawan yang berkeinginan keluar dari kamar, ingin duduk-duduk di taman, mungkin juga perlu selingan seperti ini,” ujar Wayan Koster.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Bagi Koster, ruang publik yang mempertemukan wisatawan, masyarakat, komunitas, dan UMKM penting untuk menjaga kawasan pariwisata tetap dinamis sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Ia mencontohkan wisatawan asal London yang telah berada di Bali selama dua pekan. Wisatawan tersebut memilih keluar bersama anak-anaknya untuk menikmati aktivitas yang tersedia di Nusa Dua Eco Market.

“Jadi malam ini keluar bersama anak-anaknya dan berkesempatan menikmati acara yang tersedia. Di samping itu, dengan wahana begini bisa menolong UMKM yang merupakan basis dari ekonomi kerakyatan kita,” katanya.

Baca Juga:  Pariwisata Bali Mulai Bangkit, HARRIS Riverview Kuta Alami Peningkatan Kunjungan

Dalam kesempatan itu, Koster juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan sektor pariwisata Bali. Ia menyebut sekitar 66 persen perekonomian Bali masih bergantung pada sektor tersebut.

Karena itu, menurutnya, keamanan, kualitas, daya saing dan keberlanjutan pariwisata harus terus dijaga.

“Kontribusi besar ini harus kita jaga baik-baik. Karena itulah saya bekerja keras mengendalikan situasi di Bali agar tetap kondusif dan aman,” tegasnya.

Koster menyampaikan, sampai 31 Juli 2026 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali tumbuh sekitar 0,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata kedatangan mencapai 22.000 hingga 24.000 wisatawan per hari.

Sementara itu, wisatawan domestik tercatat turun sekitar 8 persen. Salah satu penyebabnya disebut berkaitan dengan kenaikan harga avtur yang kemudian berdampak terhadap tarif penerbangan menuju Bali.

Di sisi lain, tingkat hunian hotel berizin justru menunjukkan peningkatan. Tingkat okupansi rata-rata mencapai sekitar 90 persen, sedangkan di kawasan ITDC bahkan menembus lebih dari 95 persen.

“Jumlah wisatawannya turun, tapi tingkat hunian hotelnya naik,” ujarnya.

Kondisi tersebut juga tercermin dari penerimaan pajak hotel dan restoran (PHR) kabupaten/kota se-Bali. Hingga 31 Juli 2026, penerimaan PHR mencapai sekitar Rp4,1 triliun, naik dari sekitar Rp3,8 triliun pada periode yang sama 2025.

Badung menjadi penyumbang terbesar dengan sekitar Rp2,9 triliun atau sekitar 71 persen dari total PHR Bali.

“Kalau di Badung yang lagi kerja keras untuk ngurusin Bali, terutama sekali di Badung, karena mengurus Badung sama dengan mengurus Bali,” kata Wayan Koster.

Baca Juga:  Penglipuran Perkuat Sinergi Pengelolaan Wisata, Kesejahteraan Warga Jadi Prioritas

Perhatian khusus diberikan Koster terhadap keberlangsungan transaksi para UMKM peserta Eco Market. Ia meminta ITDC dan BRI memastikan produk yang dibawa pelaku usaha benar-benar terserap pasar.

Koster bahkan menegaskan agar tidak ada produk UMKM yang tersisa dan kembali dibawa pulang oleh pelaku usaha.

“Kalau tutup, dia ada barang sisa jangan sampai dibawa pulang. Bapak tanggung jawab beli semua. Nggak boleh ada yang dibawa pulang,” tegasnya.

Menurut Koster, kebijakan tersebut penting terutama bagi UMKM yang datang dari wilayah yang cukup jauh, seperti Jembrana. Pelaku usaha telah mengeluarkan biaya dan tenaga untuk membawa produknya ke Nusa Dua sehingga harus mendapatkan manfaat ekonomi dari keikutsertaan mereka.

“Dia datang ke sini, jadi bapak tanggung jawab. Ini awas ya, Pak Direktur ITDC sama BRI. Saya nggak mau tahu, barang ini nggak boleh balik lagi,” selorohnya yang mengundang senyum para hadirin dilokasi

Koster juga menawarkan konsep “berbelanja dan berbagi”. Produk UMKM yang belum terjual dapat dibeli oleh penyelenggara kemudian dibagikan kepada masyarakat.

“Bapak yang belanja, terus bapak bagikan kepada masyarakat. Kan lebih bagus,” kata Wayan Koster.

Menurutnya, skema tersebut dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak. UMKM memperoleh kepastian pasar, masyarakat mendapatkan produk, sedangkan wisatawan dapat menerima produk lokal sebagai suvenir.

“Jadi cara kita supaya hidup kita itu harmonis, sama-sama mendapat manfaat, sama-sama bahagia,” ujarnya.

Koster juga meminta kegiatan serupa kembali dilaksanakan pada Desember 2026. Ia berharap Eco Market berkembang menjadi ruang kolaborasi yang berlangsung secara berkesinambungan, bukan sekadar agenda dua hari.

Direktur Operasi ITDC Troy Reza Waroka menjelaskan BRIMo Nusa Dua Eco Market 2026 merupakan bagian dari program aktivasi destinasi yang bertujuan memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan pengalaman wisatawan.

Baca Juga:  PMI Sebut Korban Tewas Bertambah jadi 56 Orang Akibat Gempa Cianjur

Selama pelaksanaan, terdapat 50 tenant UMKM yang menawarkan produk kuliner, fesyen dan berbagai produk kreatif lokal. Pengunjung juga dapat mengikuti beragam kegiatan, mulai dari komunitas, seni dan budaya, olahraga, workshop, yoga, zumba, talk show, kuis, tari Nusantara, Bali Blasting Performance, Bali Shelter, Bali Safari Parade hingga fashion show.

“BRIMo Nusa Dua Eco Market merupakan salah satu program aktivasi kawasan yang diselenggarakan melalui kolaborasi ITDC bersama BRI sebagai upaya untuk menghadirkan pemberdayaan bagi UMKM, pelaku ekonomi, komunitas lokal, sekaligus memperkaya pengalaman berwisata di wilayah Nusa Dua,” ujar Troy.

ITDC, lanjutnya, ingin mengembangkan Nusa Dua tidak hanya sebagai kawasan akomodasi kelas dunia, tetapi juga sebagai living destination yang memiliki aktivitas sepanjang tahun.

Konsep tersebut diwujudkan dengan menghadirkan berbagai unsur, mulai dari budaya, kreativitas, olahraga, hiburan hingga kegiatan komunitas.

Sub Brand Office Head Nusa Dua Risan Hanuraga mengatakan BRI memandang Eco Market sebagai ruang yang mempertemukan UMKM, budaya, komunitas, kreativitas dan semangat keberlanjutan.

“Kami percaya bahwa UMKM merupakan bagian penting dari kekuatan ekonomi Indonesia,” katanya.

Melalui kerja sama dengan ITDC, BRI berharap pelaku UMKM mendapatkan akses yang lebih luas untuk memperkenalkan produk, memperluas jejaring serta menjangkau konsumen melalui sektor pariwisata Bali.

Koster menegaskan, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan maupun tingkat hunian hotel. Lebih dari itu, aktivitas pariwisata harus mampu memberikan dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

“Ini cara kita untuk membangun kebersamaan, harmoni dalam membangun perekonomian dan kesejahteraan,” pungkas Wayan Koster.(yud/ub)