TPST 3R Desa Adat Seminyak Hadapi Lonjakan Sampah dari Sektor Pariwisata

0
116
TPST 3R Desa Adat Seminyak Hadapi Lonjakan Sampah dari Sektor Pariwisata
TPST 3R Desa Adat Seminyak Hadapi Lonjakan Sampah dari Sektor Pariwisata. sumber foto : dy/ub

UPDATEBALI.com, BADUNG – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R milik Desa Adat Seminyak kini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, seiring meningkatnya aktivitas pariwisata di kawasan tersebut. Volume sampah yang masuk ke TPST tercatat mencapai sekitar 179 meter kubik per hari, mayoritas berasal dari hotel, restoran, dan villa yang tersebar di Seminyak dan sekitarnya.

Ketua TPST 3R Desa Adat Seminyak, I Komang Ruditha Hartawan, menjelaskan bahwa prioritas utama pengelolaan sampah tetap diberikan kepada warga lokal, baru kemudian sampah dari sektor pariwisata.

“Volume sampah yang kami terima cukup tinggi, tidak hanya dari Seminyak, tapi juga dari Denpasar dan daerah sekitarnya. Karena TPST ini milik desa adat, kami prioritaskan sampah warga terlebih dahulu, baru sektor pariwisata,” ujar Ruditha saat ditemui di lokasi, Sabtu (26/7/2025).

Menurutnya, kondisi pariwisata sangat memengaruhi jumlah sampah yang masuk. Saat low season, volume sampah cenderung menurun, sementara pada high season terjadi lonjakan drastis yang berpotensi menyebabkan TPST overload. “Kalau Seminyak ramai wisatawan, sampah meningkat tajam. Sebaliknya saat low season, volumenya bisa turun cukup signifikan,” tambahnya.

Baca Juga:  Bantuan Rp 32 Juta dan Hibah Tanah, Bupati Giri Prasta Dukung Kesejahteraan Desa Adat Seminyak

Ruditha menjelaskan bahwa jenis sampah sangat tergantung pada karakter wilayah. Di kawasan wisata seperti Seminyak, sampah anorganik mendominasi, berupa plastik, botol, kardus, dan aluminium. Sedangkan di wilayah pedesaan, sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan lebih banyak.

“Karakteristik sampah berbeda-beda. Di Seminyak, anorganik lebih banyak karena dominasi sektor pariwisata, sementara di desa organik lebih dominan,” jelasnya.

Meski demikian, Ruditha mengakui masih banyak sampah yang belum dipilah saat tiba di TPST. Sampah organik terbagi menjadi organik basah dan kering, sementara sampah anorganik beragam, mulai dari kardus, botol plastik, hingga plastik kresek.

“Untuk plastik kresek, kami punya mesin untuk mengolahnya menjadi papan dan balok, tapi kapasitasnya masih terbatas. Sampah anorganik lainnya sebagian besar kami kirim ke pabrik. Untuk sampah organik, kami olah menjadi kompos dengan target minimal 8,4 ton, meskipun belum pernah tercapai penuh karena lahan fermentasi terbatas,” ujarnya.

Baca Juga:  Sempat Hilang, Nenek 83 Tahun di Jembrana Ditemukan Menggigil di Pinggir Sungai

Dari sisi ekonomi, penjualan sampah anorganik sangat tergantung jenisnya, di mana aluminium menjadi komoditas dengan nilai jual tertinggi. Saat ini, TPST Seminyak memiliki 28 unit armada pengangkut sampah, namun hanya 22 unit aktif beroperasi, sisanya dijadikan cadangan. Tenaga kerja yang terlibat sekitar 52 orang, dengan manajemen sumber daya manusia menghadapi tantangan khusus saat hari raya keagamaan.

“Awalnya hampir seluruh pekerja adalah warga lokal beragama Hindu, sehingga saat hari raya banyak yang libur. Sampah kan tidak pernah libur. Kami pun akhirnya merekrut tenaga dari luar Bali, termasuk dari Jawa, dan kini tim kami lebih beragam, ada yang Muslim, Nasrani, bahkan dari wilayah Timur,” kata Ruditha.

Ruditha menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah pengelolaan residu, yaitu sampah yang tidak bisa didaur ulang dan tidak memiliki nilai ekonomi. Ia berharap ada dukungan dari pemerintah maupun pihak swasta untuk menghadirkan teknologi pengolahan residu.

Baca Juga:  Diduga Rem Blong, Tronton Hantam Mobil Travel di Jembrana

“Yang paling saya inginkan adalah adanya mesin atau teknologi untuk mengolah residu. Jika TPA ditutup, kami bingung harus membuang sampah ke mana. Idealnya, TPA hanya menampung residu, jadi TPST harus bisa memilah sampah secara maksimal,” ujarnya.

Dengan kondisi yang terus berkembang dan volume sampah yang meningkat, TPST 3R Desa Adat Seminyak membutuhkan perhatian lebih agar tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai garda depan pengelolaan sampah terpadu di wilayah yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Bali ini. Upaya pengelolaan sampah yang lebih modern dan dukungan teknologi menjadi kunci agar kawasan Seminyak tetap bersih, ramah lingkungan, dan nyaman bagi warga maupun wisatawan.(dy/ub)