
UPDATEBALI.com, BANGLI – Sebagai bagian dari kawasan UNESCO Global Geopark, Toya Devasya Geopark Resorts and Villas menegaskan komitmen jangka panjang terhadap perlindungan lingkungan, khususnya dalam menjaga kelestarian Danau Batur.
Dalam merespons pertanyaan publik soal pembuangan air kolam ke danau, manajemen tidak hanya memberikan klarifikasi, tetapi juga menekankan langkah konkret yang telah dilakukan selama ini.
CEO Toya Devasya, Putu Astiti Saraswati, menyatakan bahwa koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangli, komunitas lokal, dan kalangan akademisi terus dilakukan secara berkala.
“Kami sadar betul posisi kami di kawasan konservasi strategis. Karena itu, kami menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak-pihak terkait agar aktivitas kami tidak berdampak negatif,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pemantauan visual secara rutin di area pembuangan air menunjukkan tidak adanya indikasi pencemaran. Hal ini dibuktikan dengan tidak ditemukannya pertumbuhan alga berlebih, tidak terjadi perubahan warna air, serta tidak ada penurunan kualitas habitat air di sekitar lokasi.
“Bagi kami, menjaga alam bukan hanya soal peraturan, tapi soal nilai. Kami hidup berdampingan dengan Danau Batur. Kalau danau rusak, bukan hanya ekosistem yang terdampak, tapi juga kehidupan kami sebagai pelaku pariwisata,” tutur Bu Ayu.
Di tengah tantangan pariwisata berkelanjutan, Toya Devasya ingin menjadi contoh bahwa pengelolaan sumber daya alam bisa dilakukan dengan bijak. Air geotermal yang digunakan berasal langsung dari perut bumi tanpa proses kimia, dan dikembalikan ke alam tanpa kontaminasi.
Dengan prinsip kehati-hatian tinggi dan kesadaran penuh terhadap keberlanjutan, Toya Devasya tidak hanya menjaga citra sebagai destinasi wisata premium, tetapi juga menjelma sebagai pelaku konservasi aktif di Bali.
“Ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga tanggung jawab generasi kita terhadap bumi,” tegasnya.(*/ub)


