Tour de Java Pemutaran Film ROOTS Seratus Tahun Walter Spies di Bali ditutup di Zumen Art Surabaya

0
20
Tour de Java Pemutaran Film ROOTS Seratus Tahun Walter Spies di Bali ditutup di Zumen Art Surabaya
Suasana berbagi pengalaman dan diskusi setelah pemutaran Film Roots di Zumen Art Studio Surabaya (6/9), (Foto dok. Zumen Art Studio Surabaya). Sumber Foto : Istimewa

UPDATEBALI.com, SURABAYA – Pemutaran film Roots: Seratus Tahun Walter Spies di Bali melalui program Roots Tour de Java berakhir di Surabaya, Minggu, 6 September 2026.

Setelah lebih dari sepekan berkeliling Pulau Jawa, film karya Michael Schindhelm tersebut mendapat perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari seniman, pemerhati budaya, aktivis lingkungan dan pariwisata hingga akademisi.

Rangkaian Roots Tour de Java sebelumnya menyambangi sejumlah kota, di antaranya Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Jember, Banyuwangi, hingga Surabaya. Pemutaran di Jawa Timur berlangsung di beberapa ruang seni dan budaya, termasuk Studio Serakit dan Museum Huruf di Jember, Gedung Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, serta STKW Surabaya dan Zumen Art Studio Purimas Surabaya.

Film Roots mengangkat sosok Walter Spies, seniman kelahiran Moskow yang pertama kali tiba di Batavia pada 1923 sebelum melanjutkan perjalanan ke sejumlah kota di Pulau Jawa, termasuk Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, hingga akhirnya menetap di Bali.

Melalui pendekatan dokumenter fiksi, Michael Schindhelm mengangkat perjalanan Walter Spies sekaligus perkembangan Bali dari masa lalu hingga menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia. Film ini juga membahas dinamika antara perkembangan pariwisata, seni, budaya, identitas masyarakat serta upaya mempertahankan tradisi di tengah arus globalisasi.

Baca Juga:  OJK Bali dan DSIK Berkolaborasi Tingkatkan Keberlanjutan Ekosistem Keuangan BPR

Film tersebut melibatkan lebih dari 100 seniman Bali dari berbagai genre. Keterlibatan para seniman menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali berbagai persoalan mengenai seni, budaya dan perubahan sosial yang berkembang di Bali.

Project Director Roots Tour de Java, Yudha Bantono, mengatakan perjalanan pemutaran film di Pulau Jawa dirancang sebagai bagian dari napak tilas perjalanan Walter Spies sebelum tiba dan menetap di Bali.

Menurut Yudha, setiap kota memberikan respons yang berbeda terhadap film tersebut. Masyarakat di masing-masing daerah juga menghubungkan cerita dalam film dengan perkembangan seni, budaya, pariwisata dan lingkungan di wilayah mereka.

“Di setiap tempat pemutaran film Roots memiliki respons yang beraneka ragam, termasuk ketika ditarik sebagai bahan refleksi perkembangan yang terjadi di daerahnya masing-masing,” ujar Yudha.

Pada sesi penutupan di Zumen Art Studio Surabaya, film tersebut mendapat perhatian dari penonton lintas generasi, terutama generasi Z dan kelompok dewasa.

Founder Zumen Art Studio Surabaya, Venta, menilai film Roots relevan dengan program pendidikan seni yang dikembangkan lembaganya. Menurutnya, film tersebut dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk memahami hubungan antara sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya dan perubahan sosial.

“Film Roots dapat menempatkan peran penting bagaimana sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya, dan perubahan sosial dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap dunia,” kata Venta.

Baca Juga:  Gubernur Koster Pimpin Ritual Penyucian Kawasan Pusat Kebudayaan Bali

Ia menilai film tersebut juga dapat mendorong penonton untuk melihat kembali kondisi lingkungan sosial di sekitarnya. Seni, menurutnya, dapat menjadi sarana untuk merespons berbagai perubahan secara positif.

Hal serupa disampaikan akademisi STKW Surabaya, Agus Sukamto atau yang akrab disapa Agus Koecing. Ia mengaitkan cerita dalam Roots dengan keberadaan seni tradisi Ludruk di Surabaya yang mengalami perubahan dari masa ke masa.

“Dahulu Ludruk di Surabaya jumlahnya ada tiga ratusan, namun di era sekarang bisa dihitung dengan jari keberadaannya,” ujarnya.

Menurut Agus, kisah Walter Spies dan masyarakat Bali dalam mempertahankan seni serta budaya dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Surabaya. Ia menilai tradisi perlu dipahami sebagai akar budaya yang harus terus dikembangkan agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Respons juga datang dari pelaku seni di Jember dan Banyuwangi. Pelukis Jember Ahmad Pandi menilai film Roots dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan ekosistem seni di daerahnya.

Ia melihat film tersebut sebagai ajakan bagi kalangan kreatif untuk menggali kembali sejarah Jember sekaligus melihat berbagai perubahan yang terjadi di daerah tersebut. Menurutnya, perkembangan daerah perlu dikritisi agar tidak mengarah pada degradasi sosial, budaya dan lingkungan.

Baca Juga:  Aplikasi LOVEBALI akan Diperbarui Jelang Pariwisata Dibuka

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi, Hasan Basri, menilai Roots memberikan perspektif penting mengenai hubungan seni, budaya dan pariwisata.

Menurut Hasan, kisah Walter Spies menunjukkan bagaimana seniman asing dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan seni budaya dan pariwisata Bali. Namun, perkembangan tersebut juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan.

Ia berharap Banyuwangi dapat memiliki cetak biru pengembangan seni, budaya dan pariwisata yang berkelanjutan seiring dengan pertumbuhan sektor pariwisata di daerah tersebut.

Yudha mengatakan tingginya minat masyarakat terhadap film Roots membuka peluang untuk melanjutkan pemutaran di berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Sebelumnya, film tersebut juga telah diputar di Australia Barat.

“Minat masyarakat khususnya penggiat sejarah, seni, budaya dan lingkungan untuk menantikan film ini diputar kembali di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa sangat tinggi,” kata Yudha.

Program Roots Tour de Java menjadi ruang pertemuan antara film, seni, sejarah dan persoalan perkembangan daerah. Pemutaran di berbagai kota juga membuka diskusi mengenai bagaimana masyarakat dapat menjaga identitas budaya sekaligus merespons perkembangan pariwisata dan perubahan sosial secara berkelanjutan. (yud/updatebali)