UPDATEBALI.com, BULELENG – Sayembara pemberian nama Kawasan Titik Nol Singaraja resmi berakhir. Dari berbagai usulan yang masuk, nama “Praja Mandala Singa Ambara Raja” ditetapkan sebagai nama terpilih untuk kawasan yang menjadi pusat pemerintahan tersebut.
Nama tersebut merupakan gagasan dari Kadek Dika Wirawan, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja. Usulan itu dikirimkan melalui Google Form pada 11 Juli 2025 pukul 09.31 WITA.
Kadek Dika menjelaskan, pemilihan nama tersebut tetap mempertahankan unsur “Singa Ambara Raja” yang selama ini menjadi ikon legendaris Kota Singaraja. Sementara kata “Mandala” memiliki arti kawasan, sedangkan “Praja” menggambarkan fungsi kawasan sebagai pusat pemerintahan.
Dengan perpaduan makna tersebut, Praja Mandala Singa Ambara Raja dimaknai sebagai kawasan pemerintahan yang memiliki identitas kuat dengan maskot legendaris Singa Ambara Raja.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan gagasan yang dituangkan Kadek Wika. Hal tersebut disampaikan usai Sidang Paripurna, Rabu, 29 Juli 2026.
“Wah, terima kasih dan luar biasa, Kadek Dika,” ungkap Bupati.
Menurut Bupati Sutjidra, tingginya partisipasi masyarakat dalam sayembara menunjukkan kepedulian dan kecintaan terhadap sejarah serta identitas daerah. Penetapan nama tersebut juga telah melalui proses pembahasan bersama berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan tokoh Puri.
“Selain dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, para tokoh Puri juga memberikan masukan. Dari situlah kemudian muncul nama Praja Mandala Singa Ambara Raja,” jelasnya.
Pemkab Buleleng selanjutnya akan menindaklanjuti peresmian nama baru kawasan tersebut. Pemasangan tulisan nama kawasan juga akan dilakukan dengan menyesuaikan kaidah tata ruang yang berlaku.
Sementara itu, pemberian hadiah kepada pemenang sayembara direncanakan akan dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Buleleng Festival mendatang.
Dengan hadirnya nama Praja Mandala Singa Ambara Raja, Kawasan Titik Nol Singaraja diharapkan semakin memiliki karakter dan menjadi simbol yang merepresentasikan sejarah, budaya, serta identitas Kabupaten Buleleng.(adv/ub)





