UPDATEBALI.com, Denpasar – Nyepi adalah hari raya suci umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Di mana, nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup.
Pada tahun ini, Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 3 Maret 2022. Sejak 2 tahun terakhir, masyarakat Hindu di Bali khususnya Yowana atau para pemuda tidak menyelenggarakan pengarakan Ogoh-ogoh keliling desa karena pandemi Covid-19, Selasa(01/3/2022).
Hal yang sama dirasakan juga pada ST.YBA Pemuda atau Yowana Banjar Anyar – anyar, Ubung Kaja, Denpasar Utara.
Ipong Dwi Saputra selaku Ketua STT, mengatakan ditahun ini ST. YBA membuat ogoh-ogoh yang bertema “PATIH MARICA LINA” Marica adalah seorang raksasa, putra Tataka dan Sunda. Ia tinggal dihutan Dandakadan menjadi patih Rahwana. Kakek Marica adalah seorang yaksa bernama Suketu, ia tidak memiliki anak dan memohon anugerah dari Dewa Brahma. Sehingga diberi anugerah anak perempuan yang cantik dan kuat yang diberi nama Tataka dan Marika.
Tataka dan Marika hidup di hutan Dandaka yang dikutuk oleh Sang Resi karena melukai Sang Resi. Rama dan Laksmana dari Ayodhya atas permohonan Resi Wiswamitra. Rama membunuh Tataka dengan panah saktinya, sementara Marica hidup dan melarikan diri.
Marica menyamar menjadi rusa untuk menarik perhatian Rama, Laksmana dan Sita. Marica dikunjungi untuk dimintai bantuan namun ditolak karena mengetahui kekuatan dari Rama.

Dwi Saputra menceritakan, Dengan menyamar menjadi kijang kencana, Marica mengalihkan perhatian Rama untuk memburunya sementara Sita ditinggal bersama Laksmana. Ketika Rama tahu bahwa Maricasedang mengelabuinya, ia melepaskan anak panahnya dan mengubah Marica ke wujud semula.
“Saat sedang sekarat, Marica menirukan suara Rama dan mengerang dengan keras sampai ketelinga Sita dan Laksmana. Yakin bahwa itu suara Rama, Sita menyuruh Laksmana agar pergimenyusul Rama. Sementara Laksama menyusul Rama, Rahwana menyamar menjadi brahmana untuk mengelabui Sita kemudian menculiknya,” kata Ipong Dwi Saputra.
Rangkaian perayaan Nyepi Saka 1944, pihaknya berpedomanan pada Surat Edaran MDA Provinsi Bali Nomor 009/SE/MDA-Prov Bali/XII/2021.
Dwi Saputra berharap, selaku generasi muda harus tetap menjaga dan melestarikan budaya bali terutama di perayaan pengerukan.
“Harapan tyang, kita selaku generasi muda harus tetap menjaga dan melestarikan budaya bali terutama di perayaan pengerupukan niki,” harap Dwi Saputra.(den/ub)





