“Srotragrahana” Tampil Memukau di PKB XLVIII 2026, Suguhkan Harmoni Alam dan Spiritualitas

0
379
Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tampil di Pesta Kesenian Bali XLVIII 2026 dengan garapan “Srotragrahana” yang mengangkat pesan spiritual tentang harmoni alam dan pemurnian jiwa.
Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tampil di Pesta Kesenian Bali XLVIII 2026 dengan garapan “Srotragrahana” yang mengangkat pesan spiritual tentang harmoni alam dan pemurnian jiwa. Sumber foto : Kominfo Badung

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Panggung terbuka Art Centre Denpasar dipenuhi nuansa magis saat Sanggar Seni Kadung Tresna bersama Barong Binal Mengwitani menampilkan garapan bertajuk “Srotragrahana” dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Sabtu, 20 Juni 2026 sore.

Pertunjukan tersebut menghadirkan kisah yang memadukan nilai spiritual, keharmonisan alam, serta filosofi pemurnian jiwa dalam ajaran Hindu. Melalui tata garap yang kuat, penonton diajak menyelami kehidupan di Hutan Greseh, tempat berbagai satwa hidup berdampingan dalam suasana penuh keseimbangan.

Koordinator pertunjukan, Made Dita Cahyadinata, menjelaskan bahwa “Srotragrahana” mengisahkan kehidupan unggas, kera, anjing, kura-kura, babi, hingga macan yang hidup selaras di tengah rimba. Garapan ini menjadi media untuk menyampaikan pentingnya menjaga budaya sekaligus spiritualitas Bali.

Baca Juga:  Pelestarian Seni dan Budaya Bali, Desa Padangsambian Klod Gelar Pesraman Kilat Alit-Alit IV

“Menjaga taksu leluhur kita, kemudian melestarikan budaya Bali, terlebih adalah proses pemurnian roh,” ujarnya.

Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah penggambaran sosok macan. Berbeda dari citra sebagai pemangsa yang menakutkan, macan dalam pertunjukan ini tampil sebagai pelindung seluruh penghuni hutan. Simbol tersebut menyiratkan bahwa kekuatan sejati hadir untuk menciptakan rasa aman dan menjaga keseimbangan kehidupan.

Alur cerita semakin kuat dengan hadirnya Dang Hyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh yang digambarkan tengah menjalani laku spiritual di sebuah taman di sisi timur Hutan Greseh.

Baca Juga:  Sekda Bali Buka Narasi Nusantara 2024, Dorong Kolaborasi Antarprovinsi

Dalam suasana hening, tokoh suci itu merangkai sastra pada lembaran lontar sambil memancarkan jenyana atau pengetahuan suci yang membawa kasih sayang bagi seluruh makhluk.

Melalui kebijaksanaan tersebut, Dang Hyang Nirartha mampu memahami bahasa alam dan berkomunikasi dengan setiap ciptaan Tuhan yang hidup di dalam hutan. Kehadirannya menjadi titik balik yang membawa kisah menuju makna spiritual yang lebih mendalam.

Puncak pertunjukan ditandai dengan kesediaan para satwa menjadi bagian dari sarana ritual di Pura Sada Kapal yang mengarah pada prosesi Mapepada. Dalam ajaran Hindu Bali, prosesi tersebut mengandung makna penyucian atman atau roh hewan sebagai bentuk pengabdian suci.

Baca Juga:  Penancapan Keris Jadi Simbol Puncak Peringatan 120 Tahun Puputan Badung

“Upacara Mapepada bertujuan untuk menyucikan roh (atman) hewan tersebut dari sifat-sifat kebinatangan agar nantinya, saat bereinkarnasi, jiwa mereka dapat meningkat statusnya ke derajat kehidupan yang lebih tinggi atau lebih baik,” katanya pula.

Lewat garapan “Srotragrahana”, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tidak hanya menghadirkan pertunjukan yang kaya nilai artistik, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan seluruh ciptaan Tuhan.

Penampilan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya Bali berjalan seiring dengan upaya merawat taksu leluhur serta mempertahankan nilai-nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.(adv/ub)