UPDATEBALI.com, KARANGASEM – Penataan transportasi menjadi fokus utama Pemerintah Provinsi Bali dalam menyambut pelaksanaan Ida Bhatara Turun Kabeh 2026 di kawasan Pura Agung Besakih. Berbagai skema disiapkan untuk mengurai kepadatan pemedek dan memastikan mobilitas berjalan tertib.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menekankan bahwa pengaturan transportasi harus mampu mengurangi lonjakan kendaraan secara signifikan. Ia menilai keberhasilan tidak harus sempurna, namun cukup efektif dalam menekan kemacetan.
“Kalau kepadatan bisa ditekan sebagian besar, itu sudah sangat membantu kelancaran,” ujarnya dalam rapat persiapan di Besakih.
Sejumlah langkah strategis diterapkan, di antaranya pengaturan arus kendaraan dengan sistem satu jalur masuk dan keluar, serta pembatasan kendaraan yang dapat mengakses area inti. Untuk mendukung hal tersebut, disiapkan kantong parkir terpusat dengan daya tampung sekitar 2.267 kendaraan.
Khusus bus, diarahkan parkir di luar kawasan utama, tepatnya di area Kedungdung, guna menghindari penumpukan di jalur utama menuju pura.
Sebagai alternatif transportasi, pemerintah menyediakan layanan shuttle gratis berbasis kendaraan listrik yang melayani rute dari Manik Mas menuju Bencingah. Sebanyak 10 unit disiapkan dan beroperasi sepanjang hari, dengan layanan terbatas pada malam hari.
Fasilitas ini juga diprioritaskan bagi sulinggih, lansia, serta kelompok rentan agar dapat mengakses area persembahyangan dengan lebih mudah.
Selain itu, transportasi lokal turut diatur melalui pelibatan sekitar 300 ojek resmi yang dilengkapi identitas khusus. Operasionalnya diatur melalui titik naik-turun tertentu dengan tarif yang telah ditetapkan sebesar Rp10.000 guna menjaga ketertiban.
Pemanfaatan sistem pemantauan berbasis digital juga diterapkan untuk memantau kondisi lalu lintas dan kepadatan secara real time, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat jika terjadi penumpukan.
Dengan penataan menyeluruh ini, pelaksanaan IBTK 2026 diharapkan berlangsung lebih tertib, nyaman, dan menjadi contoh pengelolaan transportasi pada kegiatan keagamaan berskala besar.
“Transportasi harus tertib agar seluruh rangkaian kegiatan bisa berjalan lancar,” tegas Koster.(yud/ub)





