UPDATEBALI.com, BULELENG – Tradisi khas Kabupaten Buleleng kembali mendapat ruang dalam gelaran Lovina Festival 2026. Melalui Lomba Sampi Grumbungan yang digelar di Lapangan Desa Kaliasem, Senin 27 Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Buleleng menghadirkan atraksi budaya yang tidak hanya menarik perhatian masyarakat dan wisatawan, tetapi juga menjadi langkah menjaga warisan leluhur sekaligus mengangkat potensi peternakan sapi Bali.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, menyampaikan bahwa Lomba Sampi Grumbungan memiliki nilai strategis dalam pelestarian budaya daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk penghargaan bagi para peternak yang tetap menjaga kualitas sapi Bali lokal serta mempertahankan tradisi yang telah berkembang secara turun-temurun.
“Melalui Lomba Sampi Grumbungan ini kami ingin memberikan apresiasi kepada para peternak yang selama ini menjaga kualitas sapi Bali lokal sekaligus melestarikan tradisi yang menjadi ikon Kabupaten Buleleng. Kegiatan ini juga diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah,” ujar Melandrat.
Ia menjelaskan, ajang tahun ini diikuti 16 akit atau pasangan sapi Bali yang berasal dari berbagai wilayah Buleleng, mulai dari kawasan timur, tengah, hingga barat. Partisipasi para peternak tersebut menunjukkan bahwa tradisi Sampi Grumbungan masih memiliki tempat di tengah masyarakat sekaligus menjadi bagian dari pengembangan budaya dan pariwisata daerah.
Tidak hanya menjadi ajang perlombaan, Sampi Grumbungan juga menjadi wadah regenerasi bagi generasi muda untuk mengenal dan meneruskan tradisi. Salah satunya Kadek Agus Yuda Saputra (23), pemuda asal Desa Galungan yang aktif melanjutkan tradisi keluarga dalam merawat sapi gerumbungan.
Bersama Kelompok Tani Giri Lestari, Agus rutin melatih pasangan sapi jantan unggulan yang didatangkan dari Desa Bebetin untuk mengikuti berbagai perlombaan. Latihan dilakukan hingga tiga kali dalam seminggu guna membangun kekompakan serta keselarasan gerak kedua sapi.
Menurut Agus, perawatan sapi gerumbungan membutuhkan perlakuan khusus, salah satunya melalui tradisi mepagrug. Proses tersebut dilakukan dengan menjemur sapi di bawah sinar matahari sejak pagi hingga siang hari agar sapi memiliki karakter lebih tenang dan mudah dikendalikan.
“Untuk sapi gerumbungan biasanya ada istilah Balinya mepagrug. Pagi sapinya dikeluarkan berjemur di bawah terik matahari sampai sekitar jam satu atau jam dua siang, baru kemudian masuk kandang untuk makan. Tujuannya supaya sapinya lebih penurut dan tidak galak,” kata Agus.
Selain perawatan khusus, pasangan sapi gerumbungan juga dijaga kondisinya melalui pemberian pakan alami berupa rumput tanpa tambahan bahan tertentu. Agus menyebutkan, membentuk pasangan sapi yang siap berlomba membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk memperoleh sepasang sapi lengkap dengan perlengkapan seperti lampit dan payasan, diperlukan biaya sekitar Rp50 juta.
Namun, biaya tersebut tidak mengurangi semangat para peternak muda dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Agus menilai keberhasilan dalam lomba tidak hanya ditentukan oleh kecepatan sapi, melainkan juga kekompakan pasangan, keserasian gerakan, ketepatan tindak atau langkah kaki, serta keharmonisan saat berada di lintasan.
Melalui Lomba Sampi Grumbungan dalam rangkaian Lovina Festival 2026, Pemkab Buleleng berharap tradisi khas daerah tersebut terus berkembang dan mampu menjadi daya tarik wisata berbasis budaya. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi sektor peternakan sapi Bali sekaligus memperkuat identitas Buleleng sebagai daerah yang kaya akan budaya lokal.
Adapun hasil perlombaan Sampi Grumbungan tahun ini yakni juara pertama diraih Desa Menyali, Kecamatan Sawan (13), juara kedua dari Desa Panji Sukasada (15), juara ketiga dari Sawan (12), dan juara harapan satu dari Desa Bebetin (11). Penyerahan hadiah dilakukan langsung oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Putu Ayu Reika Nurhaeni mewakili Bupati Buleleng.(adv/ub)





