UPDATEBALI.com, DENPASAR – Kelompok Seniman Muda Badung berhasil memukau ribuan penonton di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 lewat pertunjukan seni kolosal bertajuk “Pasir dan Ukir”, Kamis malam (18/7/2025).
Pementasan yang memadukan kekuatan seni tari, musik tradisional, dan narasi filosofis ini mengusung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga alam semesta demi masa depan yang harmoni.
Pertunjukan berdurasi satu jam tersebut mendapat sambutan meriah, termasuk dari Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta yang hadir langsung menyaksikan pementasan. Tak hanya mengapresiasi, ia juga menyatakan kebanggaannya atas kreativitas dan semangat pelestarian budaya yang ditunjukkan oleh para seniman muda Badung.
“Pasir dan Ukir” mengisahkan perjalanan dua anak kembar—Pasir dan Ukir—yang lahir dari cahaya Ibu Pertiwi, masing-masing melambangkan laut dan gunung. Tanpa mengetahui hubungan darah, mereka tumbuh terpisah hingga akhirnya dipertemukan oleh takdir untuk mengemban misi memulihkan keseimbangan semesta akibat ulah manusia yang serakah.
“Melalui karya ini, kami ingin menyampaikan bahwa menjaga laut, gunung, dan seluruh isi alam semesta adalah bagian dari ajaran Jagat Kerthi. Ketika keseimbangan alam terjaga, maka kehidupan akan terus berlangsung dalam keharmonisan,” ujar I Gusti Ngurah Krisna Gita, S.Sn, M.Sn, selaku Director & Stage Manager, saat ditemui sebelum pementasan.
Krisna menuturkan, produksi kolosal ini melibatkan sekitar 150 seniman Badung, dengan proses kreatif yang dikerjakan secara kolektif. Rangkaian latihan dimulai dari penggarapan tari selama dua bulan, disusul pengolahan tabuh (musik tradisional) selama satu setengah bulan.
“Prosesnya dinamis. Kadang tari merespon musik, kadang musik mengikuti gerakan tari. Intinya saling menyatu dan berproses bersama,” imbuhnya.
Komposer utama pertunjukan, I Made Adi Suyoga Adnyana, S.Sn, mengungkapkan bahwa menyatukan berbagai elemen seni dari seniman muda menjadi tantangan tersendiri. “Tantangan utama adalah menyatukan persepsi. Tapi melalui diskusi intens dan latihan bersama, semua bisa berjalan sesuai harapan,” ujarnya.
Untuk bagian kerawitan, sebanyak 33 seniman turut berperan dalam menyusun komposisi gambelan yang berpadu harmonis dengan gerak tari. Latihan gabungan antara musik dan tari pun dilakukan intensif selama dua minggu untuk menciptakan keselarasan maksimal di atas panggung.
Tak hanya Krisna dan Suyoga, pementasan ini juga melibatkan seniman-seniman kreatif lain, di antaranya Ni Putu Ari Sidiastini, S.Sn., M.Sn sebagai Art Director sekaligus koreografer, serta I Made Kass Winata Keneh sebagai Pimpinan Produksi.
Lebih dari sekadar pertunjukan, “Pasir dan Ukir” hadir sebagai refleksi terhadap kondisi alam dan lingkungan, serta upaya edukasi melalui seni agar generasi muda semakin sadar pentingnya menjaga bumi.
“Bumi bukan untuk dieksploitasi, tapi untuk dijaga dengan cinta. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan,” tutup Krisna.(adv/ub)





