spot_img
spot_img
BerandaBaliPermainan Tradisional Banyuning Hidup Kembali di PKB 2026, Duta Buleleng Tuai Apresiasi...

Permainan Tradisional Banyuning Hidup Kembali di PKB 2026, Duta Buleleng Tuai Apresiasi Penonton

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Suasana riang anak-anak, permainan tradisional, dan kearifan lokal Desa Banyuning mewarnai Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Minggu, 21 Juni 2026 malam.

Dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Duta Gong Kebyar Anak-Anak Kabupaten Buleleng dari Sanggar Seni Suara Mustika sukses memikat penonton melalui sajian bertajuk Mecolek-Colekan Adeng.

Karya ini mengangkat tradisi rakyat yang berkembang di tengah masyarakat Banyuning dan jarang dihadirkan dalam panggung pertunjukan modern.

Melalui garapan Tari Dolanan Mecolek-Colekan Adeng, penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menghadirkan kembali memori kolektif tentang permainan anak-anak yang sarat nilai kebersamaan, sportivitas, dan keceriaan.

Baca Juga:  Arja Klasik 'Panca Yowana Kanti' Getarkan Panggung PKB XLVI dengan Kisah Kerajaan Daha

Ketua Sanggar Seni Suara Mustika, Made Wira Okta Atmadi, mengatakan bahwa karya tersebut menjadi salah satu dari tiga materi utama yang dibawakan dalam penampilan, selain Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudha Citta dan Tari Kreasi Penyambutan Kembang Deeng.

Ia menjelaskan, Mecolek-Colekan Adeng berasal dari tradisi yang biasa dilaksanakan saat Piodalan di Pura Pemayun Banyuning. Seiring waktu, tradisi itu berkembang menjadi permainan anak-anak yang akrab dimainkan dalam berbagai aktivitas masyarakat.

Dalam praktiknya, permainan seperti mececimpedan dan meatma-atmaan kerap menjadikan mecolet-colekan adeng sebagai bentuk hukuman ringan bagi peserta yang kalah. Dari kebiasaan sederhana itu lahir sebuah garapan tari dolanan yang mengangkat nilai kebersamaan, sportivitas, dan kegembiraan masa kecil.

Baca Juga:  Usung Tema Segara Kerthi, PKB ke-45 Libatkan 18.974 Seniman

Selain karya berbasis tradisi lokal, Duta Buleleng juga menampilkan Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudha Citta yang terinspirasi dari perjalanan spiritual Siddhartha Gautama dalam mencapai pencerahan.

Komposisi ini menggambarkan proses manusia mencari ketenangan batin melalui dinamika musikal yang kuat.

Sementara itu, Tari Kreasi Penyambutan Kembang Deeng menampilkan kelembutan dan keramahtamahan perempuan Buleleng. Terinspirasi dari tradisi pedeengan dalam upacara pengabenan, tarian ini dibawakan secara berkelompok dengan gerak yang anggun dan penuh makna penyambutan.

Made Wira menjelaskan bahwa proses persiapan menuju PKB telah dimulai sejak Februari 2026. Sanggar Suara Mustika harus melalui proses seleksi di tingkat kabupaten sebelum akhirnya dipercaya sebagai duta Buleleng.

Baca Juga:  TNI-Polri Kerahkan Alat Berat Bersihkan Jalan Tertutup Longsor

“Tantangan terbesar tentu karena kami membina anak-anak. Karakter mereka berbeda-beda dan kedisiplinan dalam latihan menjadi tantangan tersendiri. Namun berkat dukungan orang tua, pelatih, dan semangat anak-anak, seluruh proses dapat berjalan baik,” ujarnya.

Ia berharap penampilan tersebut tidak hanya menghibur penonton, tetapi juga mampu menghidupkan kembali tradisi permainan rakyat di tengah generasi muda Bali.

“Semoga penampilan ini dapat menggugah anak-anak untuk mau belajar menggambel, menari, serta ikut melestarikan seni dan budaya Bali,” pungkasnya.(adv/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments