
UPDATEBALI.com, DENPASAR – Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Sabtu 20 September 2025, saat penancapan Keris Pusaka dilakukan Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa bersama panglingsir puri se-Kota Denpasar.
Momen sakral ini menjadi puncak peringatan 119 tahun Puputan Badung yang dikemas dalam Apel bersama Karya Mahabandana bertema Mageh Ing Keraton.
Peringatan dimulai dengan pembacaan kisah heroik Puputan Badung tahun 1906, ketika rakyat Badung memilih bertempur hingga titik darah penghabisan melawan kolonial Belanda, yang dipicu oleh pelaksanaan Hak Tawan Karang. Peristiwa itu kembali dihidupkan melalui garapan seni kolosal Mageh Ing Keraton, ditutup dengan penancapan pusaka keris sebagai simbol keteguhan perjuangan.
Acara turut dihadiri Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana, jajaran Forkopimda, LVRI Kota Denpasar, pimpinan OPD, hingga tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Wawali Arya Wibawa menegaskan bahwa semangat puputan harus terus diwariskan.
“Peristiwa 20 September 1906 adalah bukti dedikasi I Gusti Ngurah Made Agung dan rakyat Badung yang memilih berkorban demi kehormatan. Nilai ini harus menjadi teladan, terutama bagi generasi muda, untuk terus berjuang mengisi pembangunan,” ujarnya.
Arya Wibawa menambahkan, bisama Mati Tan Tumut Pejah atau “lebih baik gugur daripada tunduk” kini menjadi pijakan moral dalam membangun Denpasar. Menurutnya, di tengah kondisi kota yang masih dalam tahap pemulihan pascabanjir, spirit Puputan Badung bisa menjadi kekuatan bersama untuk bangkit.
Sementara itu, perwakilan panglingsir puri se-Kota Denpasar, AA Ngurah Ketut Parwa, mengingatkan pentingnya tidak melupakan sejarah.
“Pengorbanan leluhur dalam Puputan Badung adalah warisan nilai perjuangan yang harus selalu kita jaga dan teladani,” tegasnya.(per/ub)


