UPDATEBALI.com, BULELENG – Perayaan Hari Suci Kuningan tidak hanya menjadi penutup rangkaian Galungan, tetapi juga momentum bagi umat Hindu untuk kembali menyadari jati diri melalui ajaran Tri Śarīra—tubuh kasar (Stūla Śarīra), tubuh halus (Sūkṣma Śarīra), dan tubuh penyebab (Antah Kāraṇa Śarīra).
Di era yang dipenuhi kesibukan digital, Kuningan hadir sebagai ruang hening untuk menata kembali keseimbangan fisik, mental, dan spiritual.
Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Buleleng, Irma Susanthi, menjelaskan bahwa nilai spiritual Kuningan telah lama dijabarkan dalam Lontar Sundarigama. Naskah ini menegaskan bahwa pada hari Kuningan para dewa hadir menyertai kesadaran manusia. Salah satu kutipannya berbunyi, “Rangda ring amangkya, dewatā teka ring angga,” yang mengisyaratkan turunnya anugerah ketenangan bagi mereka yang tulus melakukan pemujaan.
Irma menambahkan, umat dianjurkan menyiapkan tamiang dan endogan sebagai perlambang perlindungan dan keseimbangan diri. Simbol tersebut mengingatkan bahwa tubuh perlu dijaga dari berbagai bentuk “adharma”, mulai dari penyakit hingga kebiasaan hidup yang tidak sehat. Dalam konteks kekinian, makna ini dapat diterjemahkan sebagai upaya menata pola makan, memperbaiki kualitas tidur, dan mengurangi kelelahan akibat penggunaan gawai yang berlebihan. Tubuh yang selaras menjadi pintu awal menuju peningkatan kesadaran.
Selain itu, bagian tubuh halus atau Sūkṣma Śarīra yang terdiri dari pikiran, prana, dan perasaan kerap terguncang oleh derasnya informasi digital. Irma menilai, Kuningan menjadi momen bagi umat untuk meredam kebisingan tersebut melalui doa, meditasi, dan pembiasaan diri memilih informasi secara lebih bijak. Lontar Sundarigama menuliskan bahwa pada hari suci ini, para dewa memberi kejernihan buddhi bagi mereka yang memusatkan pikiran pada Tuhan. Hal ini dianggap relevan untuk memperbaiki kualitas mental di tengah banjir informasi.
Adapun Antah Kāraṇa Śarīra atau tubuh penyebab dipandang sebagai cermin kehidupan. Menurut Irma, era digital justru menguji sejauh mana keputusan dan tindakan manusia sesuai dengan dharma. Kuningan menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apakah penggunaan teknologi membawa manfaat atau malah menjauhkan diri dari esensi spiritual.
Ajaran dalam Lontar Sundarigama memberikan pedoman penting bagi umat agar tidak mudah terperangkap ilusi maya, menjaga pikiran tetap bersih, serta melembutkan tubuh halus agar sinar ketuhanan dapat diterima dengan jernih.
“Tradisi itu menjaga kedalaman, sementara digitalisasi menghadirkan kecepatan. Keduanya hanya bisa selaras jika pusatnya, yaitu kesadaran diri, tetap dijaga,” kata Irma.
Ia menegaskan bahwa Kuningan merupakan ajakan untuk kembali merawat Tri Śarīra. Tubuh dijaga, pikiran disucikan, dan jiwa diarahkan pada ketulusan. Di tengah derasnya arus digital, pesan ini semakin mendesak untuk dihayati.
“Kita bukan semata-mata pengguna teknologi, tetapi makhluk spiritual yang sedang mencari cahaya,” ujarnya.
Irma menutup penjelasan dengan mengingatkan bahwa esensi Kuningan akan terasa ketika manusia mampu melihat apakah tubuh dihormati, pikiran dibersihkan dari polusi digital, dan jiwa tetap terhubung dengan cahaya-Nya. Jika belum, Kuningan menjadi langkah awal untuk kembali pulang pada diri sejati.(adv/ub)





