Maha Sabha VII Siwa Muka Bulakan Digelar di Gobleg, Wabup Supriatna Soroti Penguatan Tradisi

0
154
Pelaksanaan Maha Sabha VII Pemeluk Siwa Muka Bulakan Dalem Tamblingan di Wantilan Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Minggu 19 April 2026
Pelaksanaan Maha Sabha VII Pemeluk Siwa Muka Bulakan Dalem Tamblingan di Wantilan Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Minggu 19 April 2026. Sumber foto: Humas Buleleng

UPDATEBALI.com, BULELENG – Pelaksanaan Maha Sabha VII Pemeluk Siwa Muka Bulakan Dalem Tamblingan di Wantilan Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Minggu 19 April 2026, menjadi momentum konsolidasi pasemetonan sekaligus penguatan nilai-nilai adat dan spiritual di tengah perkembangan zaman.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa Maha Sabha bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang strategis untuk mempererat kebersamaan serta menjaga kesinambungan tradisi leluhur.

Baca Juga:  Wabup Buleleng Tegaskan OPD Harus Bersinergi Percepat Penurunan Stunting

Menurutnya, keberadaan semeton Siwa Muka Bulakan harus tetap kokoh dan solid sebagai penjaga nilai-nilai budaya dan spiritual dalam kehidupan masyarakat Bali.

“Maha Sabha ini menjadi momentum penting untuk menyatukan visi dan memperkuat pasemetonan agar tetap ajeg dalam menghadapi perubahan zaman,” ujarnya.

Ia menjelaskan, forum ini juga berperan sebagai sarana merumuskan program kerja yang menyentuh kebutuhan semeton secara menyeluruh. Organisasi pasemetonan diharapkan mampu menjadi wadah pemersatu sekaligus motor penggerak kegiatan yang memberi manfaat nyata bagi anggotanya.

Baca Juga:  Bupati Bangli Tanam Ratusan Bibit Pisang Cavendish

Selain itu, Supriatna menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Ia mengingatkan agar nilai-nilai warisan leluhur tetap dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Regenerasi juga menjadi perhatian dalam keberlanjutan organisasi. Generasi muda diharapkan tidak hanya melanjutkan, tetapi juga mampu memahami dan mengembangkan nilai-nilai tradisi secara adaptif tanpa meninggalkan akar budaya.

Baca Juga:  PLN Pastikan Listrik Aman Pasca Gempa 5,8 SR di Bali

“Nilai leluhur harus tetap menjadi kompas, sementara generasi muda perlu diberi ruang untuk berperan aktif agar organisasi tetap hidup dan relevan,” tegasnya.

Melalui Maha Sabha VII ini, diharapkan lahir kesepakatan dan program strategis yang mampu memperkuat eksistensi pasemetonan sekaligus berkontribusi dalam pembangunan daerah.(adv/ub)