UPDATEBALI.com, BULELENG – Dalam era digital yang sedang berkembang pesat, arus teknologi telah menjadi salah satu pengaruh utama terhadap anak-anak dan generasi muda dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk gaya bahasa dan pola perilaku.
Di tengah perubahan ini, penggunaan bahasa Bali di daerah perkotaan semakin jarang terdengar. Namun, Putu Pertamayasa, Ketua Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, bersama tim penyuluhnya, telah mengambil langkah konkret untuk mengatasi hal tersebut.
Dalam acara Bincang Komunikasi (B – Kom) Dinas Kominfosanti Kabupaten Buleleng pada Selasa 26 Maret 2024, Putu Pertamayasa menyatakan komitmennya untuk melakukan gerakan sosialisasi dan pembinaan bahasa Bali secara masif di kalangan anak-anak dan generasi muda di Buleleng.
Mereka menyadari bahwa generasi muda cenderung memanfaatkan teknologi digital untuk mengakses konten-konten modern, namun seringkali konten tersebut kurang mendukung perkembangan bahasa Bali.
Putu Pertamayasa menegaskan bahwa pihaknya tidak menyalahkan perkembangan teknologi, melainkan memanfaatkannya sebagai alat untuk memperkenalkan dan melestarikan bahasa Bali.
“Melalui fanspage Facebook Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, mereka secara aktif memposting materi berbahasa Bali dan kegiatan-kegiatan pembinaan bahasa Bali di lapangan,” ucapnya.
Langkah ini telah mendapat respons positif dari masyarakat, dengan banyak orang tua yang meminta anak-anaknya untuk bergabung dalam kelompok belajar bahasa Bali yang diselenggarakan oleh penyuluh tersebut.
Bahkan, mulai dari anak-anak TK hingga SD, minat terhadap kegiatan belajar bahasa Bali semakin meningkat di berbagai desa dan kelurahan di Buleleng.
Gede Hari Yuda Pratama, yang juga turut hadir dalam acara tersebut, menambahkan bahwa minat generasi muda terhadap bahasa Bali telah meningkat, tidak hanya berkat dukungan orang tua tetapi juga karena adanya konten-konten yang viral menggunakan bahasa Bali, meskipun tidak selalu menggunakan bahasa Bali halus.
Program kelompok belajar bahasa Bali terus digaungkan oleh Penyuluh Bahasa Bali ke seluruh desa dan kelurahan, dengan melakukan sinergi bersama tokoh adat dan pemerintah desa. Meskipun menghadapi beberapa tantangan, seperti malu-malu atau ketakutan sebagian anak-anak untuk bergabung, penyuluh tetap semangat untuk menanamkan bahasa Bali, baik lisan maupun tulisan.
Pertamayasa menekankan bahwa upaya pelestarian bahasa Bali ini tidak akan berhasil tanpa dukungan penuh dari masyarakat.
Ia mengajak semua pihak, baik orang tua maupun generasi muda, untuk tidak melupakan bahasa Bali dan aksara Bali, sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam melestarikan warisan budaya bangsa.
“Semangat pelestarian bahasa Bali terus dilanjutkan, demi menjaga keberlangsungan dan kekayaan budaya Bali bagi generasi mendatang,” ujarnya. (adv/ub)





