UPDATEBALI.com, BANGLI – Harga tomat sejak beberapa hari terakhir justru kian membungbung tinggi. Sesuai pantauan di pasar Kidul, Bangli harga eceran tomat saat ini tembus di angka Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per kilo atau mengalami kenaikan hingga 400 persen dari harga normal sebelum hari raya Galungan yang hanya Rp 5.000-an per kilo. Selain itu, pasca Galungan dan Kuningan, harga bawang merah juga justru mengalami kenaikan.
Hal ini diakui salah seorang pedagang sayur mayur di pasar Kidul Bangli, Ni Komang Tri (42) saat ditemui Kamis (23/06/2022).
“Kenaikan tomat terjadi dari lima hari terakhir secara bertahap. Awalnya naik menjadi Rp 10 ribu, naik lagi menjadi Rp 15 ribu dan sekarang harga ecerannya tembus Rp 20 ribu per kilo,” ungkapnya.
Menurut dia, kenaikan harga saat ini terbilang paling tinggi. Penyebabnya, diduga karena produksi di petani mengalami penurunan.
“Sebelumnya harga tomat hanya 3.000 sampai Rp 5.000. Kenaikan terjadi kemungkinan akibat produksi tomat di tingkat petani menurun,” jelasnya.
Menurut Ibu sejumlah anak ini, produksi tomat mengalami penurunan di petani kemungkinan karena banyak petani mengalami gagal panen.
“Pasokan tomat ke pasar biasanya didatangkan dari wilayah Kintamani. Tapi sekarang, mulai sedikit barangnya dan karena harganya mahal, saya juga tidak berani ngambil banyak,” akunya.
Selain tomat, kata dia, harga bawang merah juga mengalami kenaikan sejak menjelang hari raya Galungan dan Kuningan.
“Untuk harga bawang merah, mengalami kenaikan sejak hari raya Galungan dan Kuningan. Tapi kini kembali naik, dari Rp 45 ribu per kilo menjadi Rp 48 ribu sampai Rp 50 ribu per kilo,” sebutnya.
Sebaliknya untuk harga cabe rawit, lanjut dia, mulai mengalami penurunan. Hanya saja, harganya masih terbilang cukup tinggi.
“Dulu cabai rawit sempat mencapai Rp 100 ribu per kilo. Tapi sekarang sudah mulai turun menjadi Rp 70 ribu per kilo,” jelasnya.
Penurunan yang sama juga terjadi pada cabai besar, yang sebelumnya sempat mencapai Rp 70 ribu sekarang turun menjadi Rp 50 ribu per kilo,” tegas Ni Tri.
Hal yang sama diakui pedagang bumbu dapur, Ni Ketut Sutriani (46).
“Selama enam tahun saya jualan di pasar, baru kali ini harga tomat melambung tinggi mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per kilo untuk eceran,” ungkapnya.
Dia juga mengakui naiknya harga tomat dipasaran disebabkan karena minimnya pasokan, tidak sebanding dengan banyaknya permintaan pembeli.
“Sekarang pasokan tomat ke pasar sangat minim. Nyarinya susah, modalnya besar. Mudah-mudahan, harganya bisa kembali normal,” pungkas Sutriani. (put/ub)





