UPDATEBALI.com, KARANGASEM – Cara lama mengurus sampah dengan pola “angkut, bawa, buang” dinilai sudah usang dan tidak menyelesaikan masalah.
Hal itu ditegaskan Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, saat mengisi sosialisasi pengelolaan sampah di dua titik Karangasem, Senin 15 September 2025.
Menurutnya, pola lama justru memperparah kondisi seperti yang terlihat di TPA Suwung yang telah menumpuk sampah lebih dari 40 tahun.
“Kalau kita masih pakai cara lama, masalah tidak akan pernah selesai. Kuncinya ada di pemilahan dari sumber,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Putri Koster memperkenalkan konsep PSBS PADAS (Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas). Konsep ini menekankan tiga langkah: pembatasan plastik sekali pakai, pemisahan sampah sejak dari rumah, dan pengelolaan berkelanjutan.
Ia mencontohkan pemakaian komposter untuk sampah organik basah agar menjadi pupuk, serta teba modern untuk sampah kering.
“Kalau desa bersih, otomatis Bali bersih. Karena itu desa harus jadi garda terdepan,” katanya.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof. Ni Luh Kartini, mengingatkan bahaya pembakaran plastik yang bisa menghasilkan racun dioksin berbahaya bagi kesehatan. Ia menyebut 60 persen sampah di Bali berupa organik, sehingga sebenarnya bisa diolah di tingkat rumah tangga.
Langkah nyata juga sudah mulai dilakukan di Karangasem. Camat Karangasem, I Gusti Lanang Agung Wirawan, menyebut pihaknya membangun teba modern serta menindak pembuangan sampah ke sungai. Sedangkan Camat Kubu, I Gede Sukanta Winaya, menilai sosialisasi ini penting karena persoalan sampah kini menjadi perhatian dunia.
Putri Koster optimistis, jika semua bergerak bersama—mulai dari rumah tangga hingga desa adat—Karangasem bisa jadi percontohan Bali dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.
“Mari kita mulai dari rumah masing-masing. Kalau lingkungan bersih, hidup juga jadi lebih sehat dan pariwisata makin bermartabat,” ujarnya menutup sosialisasi.(yud/ub)





