UPDATEBALI.com, BULELENG – Harga beras yang melunjak mendapatkan perhatian dari pedagang pasar tradisional. Kenaikan harga ini dirasa menguntungkan bagi pedagang sembako di Pasar Anyar, Buleleng. Adanya pemberhentian ekspor beras juga dikatakan sebagai salah satu faktor harga beras menjadi melunjak.
Hal ini terjadi karena cuaca yang tidak menentu dan membuat beberapa negara menghentikan ekspor beras, yang mana hal ini berdamfak pula pada harga beras di indonesia.
Dikutip dari Detik.com dalam wawancara Jokowi menyatakan, “Ngeri sekali kalau melihat cerita, semua negara sekarang mengerem semuanya tidak ekspor pangan. Gandum sudah, beras sudah, gula sudah, semuanya ngerem semuanya,”.
Diketahui, Beras merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Maka dari itu tentunya beras tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan masyarakat, maka tidak banyak pedagang yang merasa tidak resah dengan naiknya harga beras di tahun 2023 ini.
Walaupun harga beras naik, tentunya masyarakat juga harus tetap membeli beras. Karena Indonesia merupakan negara yang menganggap beras adalah bahan pokok dalam kehidupan.
“Saya tidak pernah merasa resah dengan kenaikan beras, karena dengan naiknya harga beras maka stok beras yang saya miliki akan cepat habis,” jelas pedagang sembako, Supar di Pasar Anyar Buleleng, Rabu 06 Desember 2023.
Supar adalah salah satu pedagang sembako yang terdapat di Pasar Anyar Buleleng. Sebagai pedagang sembako ia tidak merasa resah dengn kenaikan beras, karena bagi dirinya jika harga beras naik maka stok beras yang ia miliki akan cepat habis.
Bagi Supar jika beras turun maka otomatis masyarakat akan lebih memilih membeli beras di Warung biasa dari pada kepasar. Hal inilah yang mengakibatkan supar merasa santai dengan kenaikan beras ini.
“Jika beras murah, pasti stok beras saya akan sulit habis otomatis saya rugi,” ungkap Supar dalam wawancara.
Ia merasa jika dirinya berbeda dengan pedagang lain yang meributkan masalah kenaikan beras di tahun 2023 ini, karena teman-temannya yang berjualan di pasar merasa rugi dengan kenaikan beras.
Beras memang bisa diganti dengan jagung ataupun ubi-ubian. Namun karena masyarakat kita sudah terbiasa dengan beras maka mereka merasa ketergantungan dengan beras.
“Belum makan nasi, belum kenyang namanya,” ujar Ayu salah satu pedagang pakaian di Pasar Anyar Buleleng.
Ayu sebagai pedagang pakaian saja merasakan bahwasannya ia dan keluarganya sangat membutuhkan beras, sehingga berapa saja harga beras tentunya akan diusahakan untuk membeli. Walaupun hanya sekilo dan dicampur dengan karbohidrat lainnya, intinya ada saja nasi.
“Saya yah pasrah-pasrah saja, gimana men orang kita juga butuh beras buat makan. Kalau protes mau kemana? Palingan juga kita iya iya saja,” ungkap Yasmin pedagang Tas di Pasar Anyar Buleleng saat wawancara, Rabu 06 Desember 2023.
Tentunya Pedagang memiliki pendapatnya tersendiri. Seperti apa yang dinyatakan oleh Supar jika ia merasa untung dengan kenaikan beras ini, dan dari pihak konsumen pun merasa pasrah dengan keadaan ini. Hal ini dikarenakan beras merupakan kebutuhan mereka.
“Saya juga ngak terlalu memperdulikan masalah-masalah kenaikan barang, semua udah ada yang ngatur. Kalau ada yang beli ya udah, kalua ngak yan gak rejeki artinya. Tapi berharap ada yang beli sudah pasti,” jelas Supar.
Tidak semua pedagang merasakan keresahan mengenai kenaikan harga beras ini. Buktinya supar saja merasa santai dan merasa untung mengenai kelonjakan harga beras. Dan juga ada beberapa konsumen yang merasa biasa saja dan pasrah dengan kenaikan harga beras, dikarenakan mereka merasa beras adalah kebutuhan mereka. Dan mahal murahnya beras mereka tetap saja harus membelinya.
Penulis: Ni Nengah Wilastri
Mahasiswi STAHN Mpu Kuturan Singaraja.





