Gubernur Koster Soroti Fenomena Bunuh Diri di Jembatan Tukad Bangkung, Wacanakan Upacara Niskala

0
386
Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di Jembatan Tukad Bangkung, Kabupaten Badung, menarik perhatian Gubernur Bali Wayan Koster.
Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di Jembatan Tukad Bangkung, Kabupaten Badung, menarik perhatian Gubernur Bali Wayan Koster. Sumber foto: den/ub

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di Jembatan Tukad Bangkung, Kabupaten Badung, menarik perhatian Gubernur Bali Wayan Koster.

Usai menggelar konferensi pers diRumah Jabatan Jayasabha, Denpasar pada Minggu, 6 April 2025, Koster menyinggung pentingnya pendekatan spiritual dalam merespons fenomena tersebut.

Menurutnya, perlu ditelusuri kembali apakah pada saat pembangunan jembatan tertinggi di Indonesia tersebut sudah dilakukan upacara pemlaspasan (pembersihan secara niskala) atau belum. Jika belum, Koster menyatakan akan menginisiasi pelaksanaan upacara tersebut.

Baca Juga:  Momen Sakral Tumpek Krulut, Gubernur Koster Ngayah Megambel di Pura Agung Besakih

“Harus dilihat dari sisi niskala, apakah sejak awal jembatan ini dibangun sudah dilakukan upacara pemlaspasan atau belum. Kalau belum, kita harus lakukan,” ujar Koster.

Lebih lanjut, Gubernur juga mempertanyakan bagaimana proses pembangunan jembatan memperlakukan kehidupan niskala di kawasan tersebut. Ia menyebut, kawasan Tukad Bangkung merupakan wilayah yang memiliki unsur spiritual kuat, dengan sungai yang dalam, panjang, dan dikelilingi banyak pepohonan, tempat yang diyakini dihuni oleh makhluk halus atau lelipi.

Baca Juga:  Arak Bali Siap Tembus ke Pasar Internasional, Gubernur Koster: Saingi Soju dan Whiskey

“Kalau tempat seperti itu tidak diperlakukan dengan baik, mereka bisa marah. Maka perlu dibuatkan pelinggih sebagai tempat bersemayamnya, agar tidak mengganggu,” ungkapnya.

Sebagai perbandingan, Koster menyinggung pengalamannya saat membangun jembatan Manik Mas ke Dalem Puri di kawasan Suci Besakih. Kala itu, pembangunan sempat mengalami gangguan karena struktur jembatan terus mengalami keretakan. Setelah berdiskusi dengan Bandesa Adat Besakih, disepakati bahwa makhluk halus di lokasi tersebut dibuatkan pelinggih baru dan diberikan upakara.

Baca Juga:  Bunda PAUD Provinsi Bali Membuka Workshop IGTKI Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan

“Setelah dibuatkan pelinggih, diupacarai, dan diberi tempat yang layak, barulah pembangunan berjalan lancar,” kisah Koster.

Dengan kasus serupa yang terjadi di Tukad Bangkung, ia mempertanyakan apakah pendekatan serupa telah dilakukan di lokasi tersebut.

“Apakah di sini sudah dilakukan seperti itu?” tanya Koster, sekaligus membuka ruang diskusi bagi penanganan yang lebih komprehensif terhadap fenomena yang kini menjadi perhatian masyarakat luas.(den/ub)