Digelar Tiap Lima Tahun, Tasyakuran Mushola At-Taqwa Jadi Simbol Kerukunan di Jembrana

0
30
Digelar Tiap Lima Tahun, Tasyakuran Mushola At-Taqwa Jadi Simbol Kerukunan di Jembrana
Digelar Tiap Lima Tahun, Tasyakuran Mushola At-Taqwa Jadi Simbol Kerukunan di Jembrana. Sumber foto: Humas Jembrana/updatebali

UPDATEBALI.com, JEMBRANA — Semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama kembali terlihat di Kabupaten Jembrana. Para petani pengempon Subak Babakan Bayuh, Desa Sangkaragung, yang terdiri dari umat Hindu dan Muslim, bersama-sama melaksanakan tradisi Tasyakuran Mushola At-Taqwa yang digelar setiap lima tahun sekali.

Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Subak Babakan Bayuh, Kelurahan Sangkaragung, Jembrana, pada Minggu 25 Oktober 2026.

Kegiatan ini menjadi simbol nyata harmonisasi dua agama dalam menjaga kelestarian alam, tradisi gotong royong, serta keberlanjutan sektor pertanian lokal.

Panitia Tasyakuran Mushola At-Taqwa sekaligus Wakil Kelian Subak Babakan Bayuh, Airul Umam, menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas rezeki, kesehatan, dan hasil pertanian yang melimpah. Lebih dari itu, tradisi ini menegaskan eratnya sinergi antara umat Hindu dan Muslim di Subak Babakan Bayuh.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa Buka Turnamen Bola Voli Poryuda II Apresiasi Kaum Muda Yang Terus Berkarya Membangun Badung

“Maknanya kita bersyukur bahwa kami sebagai petani telah diberikan kesehatan dan hasil pertanian yang baik. Umat Hindu dan Muslim di sini tetap bersinergi sudah terjalin sejak lama, mengutamakan gotong royong dan kebersamaan,” ujar Airul Umam.

Tradisi yang digelar setiap lima tahun sekali. Sementara pengempon subak tidak hanya dari umat hjndu tapi juga umat muslim sekitar 100 Kepala Keluarga (KK), sebagai warisan leluhur yang terus dilestarikan. Selain perbaikan dan perawatan Mushola At-Taqwa, kebersamaan juga terjalin saat pelaksanaan upacara di Pura Hulun Danu Batur Bangli, di mana umat Muslim turut hadir dan berpartisipasi menjaga keharmonisan.

Baca Juga:  Sekda Alit Wiradana Tekankan Pentingnya Menyama Braya dalam Merawat Kerukunan Umat

“Nilai utama dari perjuangan para tokoh terdahulu ini diwariskan kepada generasi muda agar semangat bertani dan mencintai tanah air tetap menyala,” terangnya .

Lebih lanjut, Umam menjelaskan ditengah tantangan alih fungsi lahan serta ancaman abrasi—di mana luas areal Subak Babakan Bayuh saat ini mengalami penyusutan dari 56 hektar menjadi 52 hektar akibat tergerus air pasang surut

Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, menyampaikan apresiasi mendalam dan rasa terima kasih kepada seluruh petani serta masyarakat Subak Babakan Bayuh atas konsistensi menjaga hubungan harmonis lintas agama dan kelestarian alam secara turun-temurun.

Baca Juga:  Bupati Suwirta Monitoring  Aktivitas Penggaraman di Desa Kusamba

“Atas nama pimpinan daerah, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjaga hubungan baik ini secara turun-temurun. Hubungan harmonis dengan sesama manusia dan alam harus terus dirawat, termasuk tidak membuang sampah sembarangan,” tegas Bupati Kembang.

Bupati Kembang menambahi bahwa di tengah tantangan dan situasi keuangan daerah yang terbatas, kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan merupakan tindakan yang sangat luar biasa.

“Kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan adalah tindakan yang sangat luar biasa untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan seperti bencana alam, sekaligus mendukung pembangunan,” ujar Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan. (yud/updatebali)