Desa Adat Banyuasri Kaji Pengembangan Konservasi Tukik dan Wisata Bahari

0
158
Desa Adat Banyuasri Kaji Pengembangan Konservasi Tukik dan Wisata Bahari
Desa Adat Banyuasri Kaji Pengembangan Konservasi Tukik dan Wisata Bahari. Sumber foto: Humas Kominfosanti Buleleng

UPDATEBALI.com, BULELENG – Desa Adat Banyuasri mulai menjajaki pengembangan kawasan pesisir sebagai destinasi wisata berbasis pelestarian lingkungan. Inisiatif ini mencakup wilayah Pantai Pidada, Pantai Camplung, dan Pantai Indah yang dinilai memiliki potensi ekologis sekaligus ekonomi.

Kawasan tersebut dikenal sebagai jalur perlintasan penyu hijau, sehingga dinilai strategis untuk dikembangkan menjadi wisata konservasi, khususnya melalui pelestarian tukik. Gagasan ini mengemuka dalam pertemuan awal antara pegiat konservasi dan prajuru desa adat yang berlangsung di Pantai Camplung, Sabtu 2 Mei 2026.

Baca Juga:  Sinergi dengan Kejati Bali, Pemkab Badung Gelar Bersih Pantai dan Lepas Tukik di Seminyak

Pegiat konservasi, Adhy Simatupang, menyampaikan bahwa pesisir Buleleng memiliki kekayaan ekosistem laut yang berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan. Ia menilai, kawasan ini dapat menjadi habitat penting bagi penyu untuk bertelur sekaligus daya tarik wisata edukatif.

“Jika dikelola dengan baik, ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga menjaga warisan alam bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Selain konservasi tukik, pengembangan ekowisata bahari juga menjadi opsi yang dipertimbangkan. Tokoh adat setempat, Made Agus Parthama, menyebut berbagai potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari wisata memancing, kano, berenang, hingga dolphin seeing. Kawasan ini juga memiliki potensi wisata religi di pura pesisir serta peluang pengembangan kuliner dan jalur jogging dengan panorama pantai dan persawahan.

Baca Juga:  Jaga Kelestarian Alam, Bandara I Gusti Ngurah Rai Lakukan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Kelan

Ia menambahkan, hingga kini belum terdapat sistem pengelolaan konservasi tukik yang terorganisir berbasis desa adat, meskipun potensi tersebut cukup besar, terutama di kawasan Pantai Camplung.

Sementara itu, Kelian Desa Adat Banyuasri, Mangku Nyoman Widiasa, menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Menurutnya, program ini dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga:  Wabup Kasta Lepas 200 Ekor Tukik di Pantai Klotok

“Saya menyambut baik program ini selama tidak mengganggu keseimbangan lingkungan dan mampu memberikan nilai tambah bagi desa adat,” ujarnya.

Rencana ini selanjutnya akan dibahas dalam paruman desa adat untuk mendapatkan persetujuan krama. Dengan posisi strategis dalam jalur pariwisata Buleleng, kawasan pesisir Banyuasri diharapkan berkembang menjadi destinasi baru yang mengedepankan keseimbangan antara nilai ekonomi dan kelestarian lingkungan.(adv/ub)