Dari Layang-Layang hingga Musik Elektronik, Mereren Festival 2026 Siap Ramaikan Pererenan

0
257
Mereren Festival 2026 akan kembali digelar di kawasan Pererenan, Bali, pada 21-23 Agustus 2026. Mengambil lokasi di Noema Resort Pererenan, Pantai Pererenan, dan sejumlah titik di sekitarnya, festival ini menawarkan rangkaian kegiatan yang memadukan budaya, musik, seni, kuliner, komunitas, hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Mereren Festival 2026 akan kembali digelar di kawasan Pererenan, Bali, pada 21-23 Agustus 2026. Mengambil lokasi di Noema Resort Pererenan, Pantai Pererenan, dan sejumlah titik di sekitarnya, festival ini menawarkan rangkaian kegiatan yang memadukan budaya, musik, seni, kuliner, komunitas, hingga kepedulian terhadap lingkungan. Sumber foto: den/ub

UPDATEBALI.com, MANGUPURA – Mereren Festival 2026 akan kembali digelar di kawasan Pererenan, Bali, pada 21-23 Agustus 2026. Mengambil lokasi di Noema Resort Pererenan, Pantai Pererenan, dan sejumlah titik di sekitarnya, festival ini menawarkan rangkaian kegiatan yang memadukan budaya, musik, seni, kuliner, komunitas, hingga kepedulian terhadap lingkungan.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Mereren Festival mengangkat tema Sasmita Samudra: The Sign of the Sea atau Tanda-Tanda Laut. Tema tersebut diterjemahkan melalui tiga elemen utama, yakni Wind atau angin, Wave atau gelombang, dan Neighborhood atau lingkungan.

Ketiga unsur itu akan menjadi benang merah dalam berbagai kegiatan yang berlangsung selama tiga hari. Pengunjung tidak hanya disuguhkan hiburan, tetapi juga diajak mengenal lebih dekat karakter, tradisi, serta kehidupan masyarakat di Pererenan.

Festival Director Mereren Festival 2026 sekaligus General Manager Noema Resort Pererenan, Ricky Tanza, mengatakan hari pertama festival akan dimulai pada Jumat, 21 Agustus 2026 dengan tema WIND – “Di mana perjalanan dimulai”.

Rangkaian pembuka akan diawali Festival Kick-off & Rise Run Anniversary. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul dan beraktivitas bersama sebelum memasuki berbagai agenda budaya dan kreatif.

“Pada hari yang sama, BICARA Talks #1 bertajuk “Following the Tide: Through the Frame” akan mengulas perjalanan pariwisata Bali dari waktu ke waktu. Diskusi ini juga akan membahas peran masyarakat, kreativitas, dan sektor perhotelan dalam perkembangan berbagai destinasi baru di Bali,” ujarnya.

Pembicara yang hadir dalam sesi tersebut yakni Gung Ama dan Dr. Bayu Pramana, S.Sn., M.Sn. Diskusi akan diarahkan pada perubahan wajah pariwisata Bali hingga perkembangan karakter Pererenan saat ini.

Baca Juga:  Dorong Sinergi UMKM, Wabup Buleleng Ingin Integrasi dengan Pertanian dan Pariwisata

Sementara itu, aktivitas sore akan diisi dengan Pasar Pererenan bersama Diwagraya dan Wax in the Lobby: Arrival Sounds bersama Archie.

Memasuki waktu matahari terbenam, pembukaan resmi festival akan ditandai melalui Opening Ceremony: The Wind Awakens. Agenda tersebut menghadirkan Bumi Bajra, Bale Ganjur, serta First Flight oleh Kadek Armika.

Suasana malam kemudian dilanjutkan dengan Dinner Under the Kite: The Sky Feast. Pengalaman bersantap di ruang terbuka tersebut dikurasi Chef Dom Tropical dan akan disertai penampilan Orasare, Lamented Laughter, serta live painting oleh Sastia Naresvari.

Beranjak ke Sabtu, 22 Agustus 2026, Ricky memaparkan rangkaian festival memasuki tema WAVE – “Bergerak mengikuti irama”.

Kegiatan pagi diawali Sunrise Meditation bersama The Path. Setelah itu, agenda dilanjutkan dengan BICARA Talks #2 bertajuk “Beyond Waste: Creating Tomorrow Together”.

“Sesi tersebut mengangkat isu keberlanjutan dan bagaimana konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada sektor perhotelan, desain, bisnis, serta kegiatan masyarakat,” jelasnya.

Diskusi menghadirkan Fabian Peri dari su-re.co, Rony “Onik” Rahardian dari Rebellionik, dan Seven Clean Seas.

Di sisi lain, Pasar Pererenan bersama FLOYD akan menjadi salah satu ruang interaksi kreatif masyarakat. Pengunjung juga dapat menikmati Wax in the Lobby: Vinyl Afternoon bersama ZOOT.

Agenda musik utama berlangsung pada malam hari melalui Live at Mamaloma: Coastlines After Dark. Grup elektronik asal Prancis, Télépopmusik, akan menjadi salah satu penampil utama bersama FAKTTA dan ZOOT.

Tak hanya mengandalkan musik, Mereren Festival juga membawa unsur budaya Bali melalui Kite Festival & Showcase yang dikurasi Kadek Armika bersama sejumlah rekannya. Kegiatan ini mencakup lokakarya pembuatan layang-layang di kawasan pantai.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa Hadiri Pemelaspasan Merajan Ageng Sri Karang Buncing di Banjar Sigaran

Rangkaian tersebut kemudian berlanjut dengan Kite Competition pada 23 Agustus 2026 yang digelar bersama MMS atau Mah Mah Super Pererenan, komunitas layang-layang yang berasal dari kawasan setempat.

Festival juga menyediakan Cultural Lab di Noema Hub dan kawasan pantai. Program tersebut menawarkan pengalaman langsung kepada pengunjung melalui sejumlah lokakarya, seperti pembuatan dupa, motif batik tradisional, sabun alami, upcycling, pembuatan jam, lukis tanah liat dengan glasir, cyanotype, fotografi pinhole, tari, hingga kegiatan wellness.

Selain menjadi ruang rekreasi, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi pengunjung untuk belajar dan memahami berbagai praktik budaya serta kreativitas yang tumbuh di tengah masyarakat Pererenan.

Pada hari ketiga, Minggu, 23 Agustus 2026, tema yang diangkat adalah NEIGHBORHOOD – “Rayakan bersama”.

Sejumlah agenda akan digelar, mulai dari Pasar Pererenan bersama HOPE Records, pertunjukan khusus Putu Septa x Wayang Lemah, hingga Wax in the Lobby: Last Spin bersama Marvel.

Menjelang malam, Closing Ceremony: The Wind Returns Home akan menjadi penanda berakhirnya rangkaian utama festival. Dalam agenda tersebut juga akan diumumkan pemenang Kite Competition dan disuguhkan pertunjukan Kecak Api.

Perayaan kemudian berlanjut melalui Smokin’ Sunday at Paparempa: One Last Sunset. Kegiatan ini menghadirkan konsep BBQ Social yang mengedepankan suasana santai, kuliner, musik, dan interaksi antarpengunjung.

HOPE Records, FAKTTA, dan Greybox dijadwalkan mengisi pertunjukan musik dalam agenda tersebut.

Tidak berhenti di area festival, penyelenggara juga menghadirkan Mereren Passport. Program ini mengajak pengunjung menjelajahi sejumlah mitra di kawasan Pererenan, seperti Shelter, Fuego, dan 7AM/7PM.

“Program tersebut sekaligus memperkenalkan berbagai tempat kuliner, ruang kreatif, serta destinasi gaya hidup yang menjadi bagian dari karakter Pererenan,” tukasnya.

Baca Juga:  Syahitna Dicya Amalia, Mahasiswa FKP Unud Raih pada Ajang Wushu di Jawa Tengah

Noema Resort Pererenan juga akan membuka House of Noema (HON) pada pekan yang sama dengan pelaksanaan festival. Ruang tersebut dirancang sebagai toko kurasi sekaligus wadah kreativitas yang menghadirkan berbagai produk, objek, dan kolaborasi.

Sementara itu, Director of Brand & Marketing Noema Resort, Arcky Aldwi Yanri, mengatakan Mereren Festival juga mendapatkan keterlibatan peserta dari sejumlah negara.

“jadi ada delapan negara sebenarnya,” ujar Arcky.

Menurutnya, peserta internasional tersebut berasal dari Singapura, Swedia, Denmark, Jerman, Thailand, Amerika Serikat, Australia, dan Korea Selatan.

Kehadiran peserta dari berbagai negara diharapkan dapat mempertemukan kekayaan budaya lokal dengan jejaring kreatif internasional, namun tetap mempertahankan identitas dan karakter Pererenan.

Festival juga menggelar kompetisi fotografi “Through the Eyes of Pererenan” pada 21-25 Agustus 2026. Kompetisi ini terbuka bagi peserta festival untuk mengabadikan berbagai sudut pandang mengenai Pererenan, mulai dari kehidupan masyarakat, tradisi, hingga lanskap angin dan laut.

Komitmen terhadap lingkungan menjadi bagian lain dari rangkaian Mereren Festival. Sehari setelah festival berakhir, tepatnya 24 Agustus 2026, akan digelar Neighborhood Street & Beach Clean-Up bersama Seven Clean Seas, Bintang Beer, dan sejumlah kolaborator lokal.

Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian penyelenggara terhadap kawasan yang menjadi bagian dari pelaksanaan festival.

Arcky menjelaskan, nama Mereren sendiri memiliki filosofi yang berkaitan dengan Pererenan. Menurutnya, kata tersebut diambil dari kata dasar Pererenan yang dimaknai sebagai “berhenti sejenak”.

Melalui konsep tersebut, Mereren Festival tidak hanya ingin menjadi agenda hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat dan wisatawan untuk sejenak berhenti, menikmati suasana, berinteraksi, serta melihat lebih dekat kehidupan dan karakter Pererenan.(den/ub)