spot_img
spot_img
BerandaBaliBuleleng International Rhythm Festival 2026, Menguatkan Identitas Budaya Bali Utara di Kancah...

Buleleng International Rhythm Festival 2026, Menguatkan Identitas Budaya Bali Utara di Kancah Global

UPDATEBALI.com, BULELENG — Bali Utara kembali menjadi sorotan dunia dalam ranah budaya internasional. Buleleng dipercaya menjadi tuan rumah Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) 2026 untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Hal ini disampaikan oleh Direktur International Organization of Folk Art (IOV) UNESCO Indonesia Wilayah Bali, I Gusti Ngurah Eka Prasetya atau akrab disapa Gus Eka, dalam konferensi pers di Puri Kanginan, Sabtu, 14 Februari 2026.

“Ini bukan sekadar festival. Ini adalah bentuk kepercayaan dunia internasional kepada Buleleng dan Bali Utara yang konsisten menjaga, merawat, sekaligus mempromosikan seni tradisi melalui diplomasi budaya,” ujar Gus Eka.

Baca Juga:  Seniman Dunia Berkumpul di Buleleng, BIRF Angkat Budaya sebagai Bahasa Persatuan

BIRF 2026 akan berlangsung pada 10–15 Maret, dengan kegiatan inti digelar pada 11–14 Maret. Festival tahun ini menghadirkan seniman, budayawan, dan akademisi dari enam negara, yang akan memperkenalkan budaya masing-masing serta membangun pertukaran pengetahuan lintas negara melalui seni dan ritme tradisional.

Festival ini terselenggara berkat kolaborasi antara UNESCO, IOV Indonesia, Yayasan Sanggar Seni Santi Budaya, Pemerintah Kabupaten Buleleng, Puri Kangenan Buleleng, serta Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) sebagai penyelenggara program edukasi dan riset.

“Keterlibatan Undiksha memberi penguatan pada sisi pendidikan dan penelitian. Mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dan penggerak dalam promosi budaya,” kata Gus Eka.

Baca Juga:  Pemprov Bali Apresiasi Penyelenggaraan WPRF 2024 yang Meningkatkan Diplomasi Budaya

Selain pementasan seni, festival ini melibatkan masyarakat lokal dan UMKM melalui Desa Wisata Panji dan Desa Wisata Kalibukbuk. Aktivitas meliputi pengenalan budaya Bali, wisata menonton lumba-lumba, serta promosi produk lokal seperti olahan sorgum dari Desa Panji dan ulatan bambu dari Desa Tigawasa.

Workshop budaya juga digelar di sejumlah sekolah dan kampus, termasuk SMA Negeri 1 Singaraja, SMK Negeri 1 Sawan, SMP Negeri 1 Singaraja, PPLP Pansophia Singaraja, dan LPK Kencana Hospitality Bali.

Baca Juga:  Bersahaja dan Ramah, Gubernur Koster Tinggalkan Kesan Tak Terlupakan bagi Pasha Ungu

“Melalui workshop, delegasi memperkenalkan budaya mereka kepada siswa dan mahasiswa. Sebaliknya, pelajar juga memperkenalkan budaya dan keunikan sekolah masing-masing. Di situlah terjadi pertukaran budaya yang nyata,” jelas Gus Eka.

Gus Eka berharap festival ini tidak hanya meningkatkan pariwisata edukasi Bali, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri masyarakat lokal terhadap budaya sendiri.

“Kita ingin generasi muda semakin bangga dengan budayanya sendiri. Ketika budaya itu diapresiasi oleh bangsa-bangsa lain, kepercayaan diri masyarakat akan tumbuh,” tutupnya.(adv/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments