Bio Farma Tegaskan Kepemimpinan Indonesia di Industri Vaksin Dunia Lewat DCVMN AGM 2025 di Bali

0
214
Pembukaan 26th Developing Countries Vaccine Manufacturers Network Annual General Meeting (DCVMN AGM) 2025
Pembukaan 26th Developing Countries Vaccine Manufacturers Network Annual General Meeting (DCVMN AGM) 2025. sumber foto : ub

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Indonesia kembali menunjukkan kiprahnya di panggung global industri vaksin dengan menjadi tuan rumah 26th Developing Countries Vaccine Manufacturers Network Annual General Meeting (DCVMN AGM) 2025 yang digelar di The Meru, Denpasar, Bali.

Pertemuan bergengsi ini mengusung tema “Advancing Innovation & Building Resilient Vaccine Ecosystem for a Safer World” dan mempertemukan lebih dari 350 peserta dari 17 negara dan 46 perusahaan anggota jaringan DCVMN.

Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat kemandirian di bidang vaksin dan tidak lagi bergantung pada negara maju.

“Organisasi ini dibuat agar negara-negara berkembang tidak tergantung dengan vaksin dari negara lain. Ini adalah pertemuan ke-26, jauh sebelum vaksin COVID-19 menjadi masalah global. Vaksin telah menjadi game changer bagi berbagai penyakit agar bisa dihindari dan disembuhkan,” ujar Dante dalam konferensi pers, Rabu (29/10/2025).

Baca Juga:  Mola-Mola Cup II Diikuti 303 Atlet, Jadi Ajang Pembinaan Perenang Buleleng

Ia menambahkan, pemerintah Indonesia terus mendorong inovasi dan kolaborasi di sektor kesehatan, termasuk memperkuat peran industri dalam negeri.

“Kita punya industri Bio Farma yang menjadi tuan rumah kegiatan DCVMN kali ini, sekaligus simbol kemampuan Indonesia di bidang bioteknologi,” tegasnya.

Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya menyampaikan, perusahaan kebanggaan nasional itu menjadi co-host DCVMN AGM 2025 dan berperan penting dalam rantai pasok vaksin dunia.

“Bio Farma menjadi salah satu pemasok vaksin global. Produk kami telah digunakan di lebih dari 150 negara dan mendapatkan pra-kualifikasi WHO, artinya memenuhi persyaratan global dari segi mutu, keamanan, dan efektivitas,” ujarnya.

Selain memperkuat jejaring global, pertemuan ini juga menjadi ruang untuk membahas model pembiayaan dan inovasi agar negara berkembang dapat lebih mandiri dalam riset serta produksi vaksin.

Baca Juga:  Sekda Bali Hadiri Pembukaan Kongres Urologi Asia, Teknologi Telerobotik Jadi Sorotan

“Kami memanfaatkan momentum ini untuk membangun inovasi dan kolaborasi pendanaan, mendorong kemandirian vaksin di masing-masing negara,” jelas Shadiq.

Konfrensi Pers 26th Developing Countries Vaccine Manufacturers Network Annual General Meeting (DCVMN AGM) 2025. sumber foto : Yud/ub

Bio Farma juga menampilkan sejumlah keberhasilan dalam mendukung program imunisasi global, seperti vaksin polio untuk UNICEF, serta kemampuan transfer teknologi dua arah dengan berbagai negara mitra.

“Kami terus berupaya menciptakan produk yang affordable dan berkualitas tinggi, baik untuk kebutuhan program pemerintah maupun pasar komersial,” tambahnya.

Sebagai jejaring yang berdiri sejak tahun 2000, DCVMN menaungi 46 produsen vaksin dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Tujuannya adalah memperkuat kapasitas produksi vaksin negara berkembang melalui kolaborasi riset dan transfer teknologi dengan lembaga internasional seperti WHO, UNICEF, Gavi, CEPI, PATH, dan Gates Foundation.

Ketua Dewan DCVMN periode 2023–2025, Adriansjah Azhari, menegaskan bahwa AGM kali ini difokuskan untuk memperkuat kolaborasi riset dan kapasitas produksi lintas negara berkembang.

Baca Juga:  Pengukuhan TPPS Kabupaten, Kecamatan, Desa/Kelurahan Se-Badung

“Tujuannya mencari solusi bersama untuk memperkuat kapasitas vaksin dan hasil penelitian. Negara berkembang memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap pasokan vaksin global, terutama saat pandemi,” katanya.

CEO DCVMN Rajinder Suri turut menambahkan pentingnya jejaring global ini dalam menghadapi tantangan kesehatan masa depan.

“Kami akan terus meningkatkan kemampuan dan siap mendukung organisasi seperti CEPI dan WHO untuk menghadapi tantangan kesehatan global berikutnya,” ujarnya.

Penyelenggaraan DCVMN AGM 2025 di Bali menjadi bukti nyata posisi Indonesia sebagai motor penggerak kemandirian vaksin dunia. Melalui kolaborasi, riset, dan inovasi yang berkelanjutan, Indonesia bersama negara berkembang lainnya diharapkan mampu membangun ekosistem kesehatan global yang lebih tangguh, inklusif, dan berkeadilan. (yud/ub)