UPDATEBALI.com, DENPASAR – Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Pemerintah Provinsi Bali menggalang komitmen dalam merealisasikan inisiatif Bali Net Zero Emissions (NZE) 2045.
Dalam upaya tersebut, IESR bekerja sama dengan Center of Excellent Community Based Renewable Energy (CORE) Universitas Udayana untuk mengidentifikasi potensi energi terbarukan di Nusa Penida.
Marlistya Citraningrum, Manager Program Energi Berkelanjutan IESR, menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan strategi untuk mencapai target net zero emission (NZE) pada 2045 dan mewujudkan Nusa Penida dengan 100 persen energi terbarukan pada 2030.
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR, menyoroti peluang besar Nusa Penida sebagai pulau percontohan berbasis energi terbarukan yang dapat memasok kebutuhan energi di Pulau Bali. Dia juga menekankan bahwa pemanfaatan energi terbarukan akan menarik lebih banyak pengunjung ke Nusa Penida, serta berdampak positif pada peningkatan ekonomi daerah.
“Studi IESR menunjukkan bahwa biaya produksi tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan lebih murah dibandingkan dengan menggunakan pembangkit listrik diesel. Konsumsi bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) saat ini mencapai Rp 4,5 ribu/kWh, namun dengan 100 persen energi terbarukan, biaya produksi listrik dapat turun 30-40 persen,” ucap Fabby Tumiwa pada Rabu 21 Februari 2024 dalam Media Gathering “100 Persen Energi Terbarukan di Nusa Penida”.

Dalam langkah menuju Nusa Penida 100% energi terbarukan pada 2030, IESR sedang melakukan kajian awal yang akan diluncurkan pada 6 Maret 2024 mendatang. Langkah ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, mitra pembangunan, swasta, dan masyarakat.
I Nyoman Satya Kumara, dari CORE Universitas Udayana, memaparkan berdasarkan analisis IESR dan Center of Excellence Community Based Renewable Energy (CORE) Udayana, potensi energi terbarukan di Nusa Penida mencapai lebih dari 3.219 MW yang terdiri dari 3.200 MW PLTS ground-mounted, 11 MW PLTS atap, 8 MW biomassa, belum termasuk potensi energi angin, arus laut, dan biodiesel. Dia juga menyoroti bahwa sistem ketenagalistrikan Nusa Penida 100 persen energi terbarukan secara teknis memungkinkan dan dapat mencapai biaya pembangkitan yang lebih rendah dari pada menggunakan pembangkit diesel.
Alvin Putra Sisdwinugraha, Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IESR, menambahkan bahwa tahap pertama dalam mencapai 100% energi terbarukan di tahun 2030 adalah mencapai sistem diesel daytime-off, yang memaksimalkan pemanfaatan sistem PLTS dan BESS di siang hari.(den/ub)





