
UPDATEBALI.com, BULELENG — Hari suci Anggarakasih Tambir kerap hadir sebatas penanda kalender rohani. Sebagian umat merayakannya dengan sukacita, sebagian lain menjalaninya sebagai rutinitas, bahkan tak jarang generasi muda memandangnya tanpa makna mendalam.
Padahal, Anggarakasih Tambir menyimpan pesan spiritual penting: yadnya bukan tentang apa yang dipersembahkan, melainkan tentang kesadaran siapa yang mempersembahkan.
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 13 Januari 2026.
Ia menyoroti fenomena yadnya yang kini kerap dibayangi beban status sosial. Di tengah masyarakat, yadnya sering diidentikkan dengan banten yang banyak dan mahal, sehingga memunculkan rasa minder bagi umat yang merasa tidak mampu menyamai standar sosial di sekitarnya.
“Ketika yadnya diukur dari banyak atau mahalnya persembahan, maka maknanya bergeser dari sarana penyucian diri menjadi ajang pembanding status. Yang bekerja bukan lagi bhakti, melainkan ego,” ungkap Irma.
Ia mengutip ajaran dalam Lontar Sundarigama yang menegaskan bahwa tinggi rendahnya yadnya tidak ditentukan oleh besar kecilnya banten, melainkan oleh kesucian hati orang yang mempersembahkannya. Pesan tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi umat saat ini, ketika yadnya berpotensi menjadi beban sosial alih-alih jalan spiritual.
Menurut Irma, Anggarakasih Tambir juga sering dirayakan sebagai puncak pujawali dengan semangat ramai, namun cepat berlalu. Setelah upacara usai, kehidupan kembali berjalan tanpa refleksi batin dan perubahan sikap. Yadnya pun berhenti pada seremoni semata.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan ajaran dalam Bhagavadgita Bab IX yang menegaskan bahwa mereka yang tidak memahami hakikat spiritual kerap memandang sesuatu hanya dari bentuk luarnya.
“Jika yadnya dipahami sebatas acara, bukan proses penyadaran diri, maka esensi spiritualnya akan lenyap,” jelasnya.
Lebih lanjut, Irma menekankan bahwa Anggarakasih Tambir seharusnya menjadi titik hening untuk menata kembali hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.
Tantangan besar saat ini adalah generasi muda yang menerima yadnya sebagai kewajiban turun-temurun tanpa pemahaman makna. Ketika makna tidak dijelaskan, yadnya terasa kering dan membosankan, padahal sejatinya merupakan jalan penemuan jati diri.
Menanggapi kritik yang menyebut banten sebagai bentuk pemborosan, Irma mengajak umat bersikap bijak. Menurutnya, persoalan bukan terletak pada banten, melainkan pada cara memaknainya. Jika dijadikan ajang gengsi, nilai spiritual memang hilang. Namun bila dipahami sebagai simbol bhakti dan sarana konsentrasi batin, banten justru mendidik manusia untuk memberi dan melepaskan.
Lontar Sundarigama menegaskan bahwa yadnya tidak boleh dipaksakan dan tidak menjadi beban, melainkan dilakukan secara sadar dan proporsional.
“Ketika generasi muda ber-yadnya dengan bakti, mereka sedang membangun karakter, etika kerja, dan keteguhan batin. Bakti tidak mematikan mimpi, tetapi menuntun mimpi agar selaras dengan dharma dan tidak kehilangan makna,” pungkas Irma.(adv/ub)


