spot_img
spot_img
BerandaBaliMakna Siwarātri di Era Digital, Undangan untuk Berhenti, Berjaga, dan Menemukan Jati...

Makna Siwarātri di Era Digital, Undangan untuk Berhenti, Berjaga, dan Menemukan Jati Diri

UPDATEBALI.com, BULELENG – Di tengah derasnya arus teknologi digital yang membuat manusia lebih sering menyentuh layar gawai dibandingkan menyelami suara hatinya sendiri, Hari Suci Siwarātri hadir sebagai momentum refleksi yang kian relevan.

Di saat notifikasi berdatangan tanpa jeda dan identitas digital perlahan menggantikan jati diri sejati, Siwarātri menjadi undangan spiritual untuk berhenti sejenak, berjaga dalam kesadaran, dan melayani Sang Diri.

Penyuluh Agama Hindu pada Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, menjelaskan bahwa secara harfiah Siwarātri berarti malam Śiva atau malam kesadaran. Perayaan ini jatuh pada malam tergelap ketika bulan tidak tampak di langit, namun justru dalam kegelapan tersebut manusia diajak menyalakan cahaya dari dalam dirinya.

Baca Juga:  Isu Uang Rp 100 Juta Hilang Pasca Beredarnya Video Tuyul Ternyata Hoax

“Siwarātri bukan sekadar ritual kuno, tetapi malam keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Siapa aku, ke mana aku berjalan, dan untuk apa aku hidup. Di tengah dunia yang sibuk memamerkan pencapaian, Siwarātri mengajarkan keheningan dan kejujuran batin,” ujar Irma saat dikonfirmasi, Sabtu, 17 Januari 2026.

Ia melanjutkan, kisah Lubdaka yang digubah oleh Mpu Tanakung mengandung nilai simbolik ajaran Ketuhanan dalam Hindu. Lubdaka, sang pemburu, bukan semata tokoh cerita, melainkan perlambang manusia itu sendiri sebagai pemburu cahaya dan pemburu kesadaran Ilahi.

Baca Juga:  Upacara Penurunan Bendera HUT Kemerdekaan RI ke-78 Tabanan dirangkaikan dengan Penyerahan Hadiah Pemenang Lomba

Menurut Irma, konsep penebusan dosa dalam ajaran Hindu tidak dipahami sebagai transaksi spiritual, melainkan sebagai perubahan arah hidup. Hal ini sejalan dengan ajaran Bhagavadgītā IV.37 yang menyebutkan bahwa pengetahuan mampu membakar dosa seperti api membakar kayu. Pada malam Siwarātri, umat tidak hanya memohon pengampunan, tetapi juga berjanji pada diri sendiri untuk hidup lebih sadar dan bertanggung jawab.

“Setiap manusia wajib berburu kebajikan dan esensi Ketuhanan. Yang diburu bukan binatangnya, tetapi sifat kebinatangan dalam diri manusia. Pemusnahan sifat buruk menuju sifat-sifat kebaikan itulah makna sejati Siwarātri, sebagai malam perenungan agar terjadi dialog antara jiwa dan kesejatiannya,” jelas Irma.

Baca Juga:  Hilang Sejak Kamis, Suja Ditemukan Tewas di Pantai Batu Mejan

Ia menambahkan, di era digital saat ini avidyā atau ketidaktahuan kerap berwujud halus, seperti kecanduan pengakuan, haus validasi di media sosial, kemarahan di kolom komentar, hingga lupa mendengar suara batin sendiri. Dalam konteks inilah Siwarātri menjadi ruang refleksi, bukan untuk menghakimi diri, melainkan untuk menyadari di titik mana manusia mulai kehilangan arah.

“Siwarātri mengajak kita kembali memuliakan kelahiran sebagai manusia, dengan hidup lebih sadar, beretika, dan selaras dengan nilai-nilai kebajikan,” pungkasnya. (adv/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments