Walikota Jaya Negara Pimpin Upacara Pecaruan Panca Kelud Sebagai Wujud Harmoni Alam Denpasar

0
299
Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri Karya Pecaruan Panca Kelud, Yamaraja Wraspati Kalpa Agung untuk mengembalikan keharmonisan alam di Kawasan Pasar Badung, Kamis (30/10/2025).
Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri Karya Pecaruan Panca Kelud, Yamaraja Wraspati Kalpa Agung untuk mengembalikan keharmonisan alam di Kawasan Pasar Badung, Kamis (30/10/2025). Sumber foto: Humas Denpasar

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Sebagai bentuk pemulihan keseimbangan alam pascabencana banjir yang melanda beberapa wilayah sebulan lalu, Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan Karya Pecaruan Panca Kelud, Yamaraja Wraspati Kalpa Agung di kawasan Pasar Badung, Kamis 30 Oktober 2025.

Upacara sakral yang dipuput oleh Sulinggih Tri Sadaka ini menjadi simbol penyucian dan harmonisasi alam setelah terjadinya bencana. Rangkaian kegiatan juga dilanjutkan dengan Ngaturang Pakelem di Muara Tukad Badung, sebagai wujud persembahan kepada alam semesta agar keseimbangan kembali terjaga.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Tinjau Warga Terdampak Banjir di Bali, Gubernur Koster Pastikan Sinergi Pemulihan

Upacara dilaksanakan dengan penuh kekhidmatan, diiringi gambelan, kidung suci, serta persembahan Tari Rejang Dewa dan Topeng Wali. Suasana sakral menyelimuti kawasan Pasar Badung ketika Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama jajaran Forkopimda, PHDI, Sabha Upadesa, dan OPD terkait, turut mengikuti persembahyangan bersama.

Menurut Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Surya Antara, pelaksanaan upacara ini merupakan tindak lanjut dari hasil “mepinunas,” yakni permohonan petunjuk secara spiritual. Berdasarkan petunjuk tersebut, diselenggarakan Panca Kelud, Yama Raja, Pati Kalpa, dan Mulang Pekelem, yang bermakna sebagai permohonan maaf kepada alam sekaligus pemulihan energi keseimbangan di wilayah Denpasar.

Baca Juga:  Pemkot Denpasar Tegaskan Komitmen Jaga Keamanan, Tolak Organisasi Premanisme

“Upacara ini bukan sekadar ritual, tetapi wujud kesadaran kita untuk menghormati alam yang telah terganggu keseimbangannya. Dengan cara ini, kita berharap kehidupan masyarakat kembali tenteram dan selaras,” jelas Alit Surya Antara.

Sementara itu, Walikota Jaya Negara menegaskan bahwa pelaksanaan karya ini merupakan bagian dari upaya niskala untuk menenangkan alam pasca bencana. Namun demikian, upaya sekala (nyata) juga terus diperkuat melalui berbagai langkah strategis.

Baca Juga:  Hati-Hati, Tangki BBM Mobil Kosong Bisa Picu Masalah Serius, Begini Cara Merawatnya

“Kami tidak hanya melakukan upacara, tetapi juga mempercepat langkah konkret seperti normalisasi sungai, penataan bantaran, penanaman di sempadan sungai, serta penguatan sistem peringatan dini bencana,” ujar Jaya Negara.

Ia berharap, kombinasi antara keseimbangan spiritual dan penataan lingkungan yang berkelanjutan akan membawa Denpasar menjadi kota yang harmonis, aman, dan lestari.

“Melalui keseimbangan sekala dan niskala, semoga Denpasar dijauhkan dari bencana, dan seluruh masyarakat hidup dalam kedamaian,” tambahnya.(per/ub)