UAG Hadir di Jantung Ubud, Tawarkan Ruang Kreatif Berbasis Warisan dan Inovasi

0
576
Ubud Art Ground resmi dibuka pada 11 Juli 2025 dengan pameran yang menampilkan seniman dari Bali dan Tiongkok, sebagai ruang seni yang menghubungkan tradisi dan kontemporer.
Ubud Art Ground resmi dibuka pada 11 Juli 2025 dengan pameran yang menampilkan seniman dari Bali dan Tiongkok, sebagai ruang seni yang menghubungkan tradisi dan kontemporer. Sumber foto : Yud/ub

UPDATEBALI.com, GIANYAR – Ubud kembali menegaskan posisinya sebagai pusat seni dan budaya dunia dengan peluncuran resmi Ubud Art Ground (UAG) pada Jumat, 11 Juli 2025.

Diinisiasi oleh Yayasan Satya Djaya Raya, UAG hadir sebagai ruang kreatif baru yang memadukan warisan budaya dengan ekspresi artistik kontemporer, terletak di kawasan Batu Kurung Estate, Kedewatan, Ubud.

Mengusung semangat kolaborasi lintas budaya dan generasi, UAG dibuka dengan pameran perdana bertajuk “Parallels: Legacies in Flux” yang akan berlangsung hingga 10 Agustus 2025 di Gudang Kayu, ruang pamer modular seluas 5.000 m² yang menjadi bagian dari pengembangan jangka panjang UAG sebagai pusat seni seluas 2.000 m².

Pameran ini dikurasi oleh dua tokoh seni lintas negara: Farah Wardani dari Indonesia dan Prof. Qiu Ting dari Tiongkok, menghadirkan lebih dari 70 seniman dari Bali dan Tiongkok. Bersama-sama, mereka mengeksplorasi dinamika warisan budaya visual dalam konteks seni rupa masa kini.

Baca Juga:  Gubernur Koster Launching QRIS Tap, Transportasi Umum Bali Kini Semakin Praktis dan Non-Tunai

“Melalui pameran ini, kami tidak hanya menampilkan karya, tapi juga membuka percakapan tentang warisan budaya, perubahan masyarakat, dan inovasi seni yang berpijak pada tradisi,” ujar Prof. Qiu Ting, Dekan School of Chinese Painting – Central Academy of Fine Arts (CAFA), Beijing.

Pameran dibagi dalam dua bagian besar: Legacies in Flux: Bali dan Legacies in Flux: China, masing-masing menampilkan narasi kuat tentang bagaimana dua budaya besar Asia ini menavigasi zaman dengan tetap merawat akar visual dan filosofinya.

Yayasan Satya Djaya Raya meluncurkan Ubud Art Ground di Ubud pada 11 Juli 2025 sebagai ruang seni baru yang menggabungkan tradisi dan seni modern.
Yayasan Satya Djaya Raya meluncurkan Ubud Art Ground di Ubud pada 11 Juli 2025 sebagai ruang seni baru yang menggabungkan tradisi dan seni modern. Sumber foto : Yud/ub

Farah Wardani membingkai bagian Bali melalui lima pendekatan kuratorial:

  • Prelude: A Master’s Touch – instalasi luar ruang dari maestro I Made Djirna bertajuk Numpang Lewat – Berkelanjutan/Transient Continuous.

  • Continuum – eksplorasi warisan dan perubahan sosial Bali melalui karya seniman lintas generasi.

  • Spectrum – tafsir personal seniman kontemporer terhadap tradisi.

  • Tradition Today – pendekatan kritis generasi muda terhadap bentuk tradisional.

  • Legacies in Flux: A Timeline – linimasa sejarah seni rupa Bali melalui karya para maestro.

Baca Juga:  Momen Sakral di Besakih, Gubernur Koster Turut Ngayah Megambel saat Penyineban IBTK 2026

Sebanyak 51 seniman Bali ikut serta, di antaranya I Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Kuncir Sathya Viku, Satya Cipta, Valasara, dan Ni Nyoman Sani.

“Melalui UAG, kami ingin menghadirkan pengalaman seni yang hidup, reflektif, dan berdampak lintas generasi dan budaya,” ujar Farah Wardani.

Sementara itu, bagian Tiongkok menyoroti perkembangan teknik lukisan tinta (guohua) dalam narasi baru. 20 seniman Tiongkok menampilkan karya-karya eksperimental, konseptual, hingga kontemplatif.

Seniman seperti Lin Mao, Tang Yongli, dan Zhang Meng mengeksplorasi batas-batas baru dalam seni lukis tradisional, sementara nama-nama seperti Fu Yunfei dan Zhang Dingyou memadukan gaya modern dengan disiplin klasik.

Baca Juga:  Semangat Tak Pernah Padam, A.A. Istri Rai Setyawati Terus Wariskan Tari Bali kepada Anak-Anak

Pameran juga diperkuat oleh 33 karya tambahan dari pengajar utama CAFA, seniman Indonesia, serta penerima beasiswa dari Lie Siong Tay Charitable Foundation.

Menurut Yuanita Sawitri, Direktur UAG, ruang ini dirancang sebagai ekosistem dialog antara seniman, pemikir, dan masyarakat.

“Ubud Art Ground bukan sekadar ruang seni, melainkan ruang pertemuan tradisi dan keberanian berekspresi,” ungkap Yuanita.

Ia juga menegaskan komitmen Yayasan Satya Djaya Raya dalam mendukung pendidikan dan pelestarian budaya.

“Warisan budaya bukanlah sesuatu yang statis, tetapi berkembang bersama zaman, melalui tangan-tangan seniman visioner,” ujarnya.

Dengan kehadiran UAG dan pameran “Parallels: Legacies in Flux”, Ubud memperkuat reputasinya sebagai jantung denyut seni Asia yang inklusif, reflektif, dan terbuka terhadap wacana global.(yud/ub)