UPDATEBALI.com, BULELENG – Harga sembako di Pasar Tukadmungga, Buleleng, Bali, mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga ini telah memberikan dampak serius bagi warga setempat yang kini merasa kesulitan memenuhi kebutuhan pokok mereka.
Harga sejumlah komoditas terpantau naik. Beberapa di antaranya adalah beras, ayam, bawang putih, cabai rawit merah, dan cabai merah besar. Adapun harga komoditas yang turun, adalah bawang merah.
Dwi Lestari, salah seorang pedagang sayuran di Pasar Tukadmungga mengatakan salah satu komoditi sayuran yang naik cukup tinggi adalah cabai rawit.
“Harga cabai rawit merah, naik 80 persen dari Rp 50 ribu menjadi Rp 90 ribu untuk satu kilogram (kg) nya,” kata Dwi Lestari, Sabtu 02 Desember 2023.
Kenaikan harga sembako juga terjadi di Pasar Tukadmungga, Buleleng, Bali. Harga beras kualitas medium I naik menjadi Rp15.000 per kilogram dari sebelumnya Rp13.000 per kilogram. Harga daging ayam juga naik menjadi Rp30.000 per kilogram dari sebelumnya Rp28.000 per kilogram.
Salah satu faktor utama adalah kenaikan harga minyak yang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Harga minyak yang tinggi berdampak pada biaya produksi dan distribusi sembako seperti beras, gula, minyak goreng, dan daging. Sebagai akibatnya, para pedagang sembako di berbagai pasar tradisional maupun modern terpaksa menaikkan harga jualnya.
Kenaikan harga sembako ini dikeluhkan oleh masyarakat. Mereka merasa terbebani dengan kenaikan harga ini, terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Masyarakat mengeluhkan dampak kenaikan harga ini terutama dalam situasi ekonomi yang sudah sulit. Banyak yang merasa sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama keluarga dengan penghasilan terbatas.
“Harga sembako terus naik, sedangkan penghasilan saya tetap. Saya jadi harus pintar-pintar mengatur pengeluaran,” kata Siti, seorang ibu rumah tangga.
Sementara itu, para pedagang di Pasar Tukadmungga mengungkapkan bahwa kenaikan harga sembako disebabkan oleh faktor-faktor seperti kenaikan harga bahan baku, biaya transportasi, dan permintaan yang tinggi. Mereka berharap agar situasi ini dapat segera membaik sehingga warga tidak terus menderita akibat harga sembako yang mahal. Pemerintah setempat telah memberikan respons terhadap situasi ini dengan melakukan pemantauan harga dan mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan kenaikan harga sembako.
Diharapkan langkah-langkah ini dapat membantu meredakan tekanan ekonomi yang dihadapi oleh warga Seririt.
Sementara itu, para pedagang di Pasar Tukadmungga mengungkapkan bahwa kenaikan harga sembako disebabkan oleh faktor-faktor seperti kenaikan harga bahan baku, biaya transportasi, dan permintaan yang tinggi. Mereka berharap agar situasi ini dapat segera membaik sehingga warga tidak terus menderita akibat harga sembako yang mahal.
Dampak dari kenaikan harga sembako ini sangat terasa bagi masyarakat yang telah menghadapi tantangan ekonomi yang lebih berat selama pandemi.
Pemerintah telah merespon dengan berbagai kebijakan, termasuk program subsidi sembako, untuk membantu meringankan beban masyarakat. Masyarakat diharapkan untuk mengambil tindakan bijak dalam mengelola pengeluaran dan mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Selain itu, pemerintah terus berupaya mengendalikan inflasi dan mencari solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga sembako. Meskipun pemerintah telah berupaya untuk mengendalikan kenaikan harga sembako, namun kenaikan harga ini masih dirasakan oleh masyarakat. Pemerintah perlu melakukan upaya-upaya yang lebih efektif untuk mengendalikan kenaikan harga sembako, sehingga dapat meringankan beban masyarakat.
Situasi kenaikan harga sembako di Pasar Tukadmungga menjadi perhatian bersama, dan diharapkan upaya dari pemerintah lainnya dapat membantu meredakan beban ekonomi warga dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di wilayah tersebut.
Penulis : I Gede Nokia Apriawan
Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja.





