spot_img
spot_img
BerandaOpini dan ArtikelPerjalanan Waktu di Terowongan Desa Kekeran: Menapaki Jejak Sejarah yang Tersembunyi

Perjalanan Waktu di Terowongan Desa Kekeran: Menapaki Jejak Sejarah yang Tersembunyi

UPDATEBALI.com, BULELENG – Di tengah keindahan pegunungan dan pesona alam Bali, desa Kekeran, yang terletak di kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng ini, memiliki sebuah keajaiban bersejarah yang menjadi nyawanya yaitu: “Terowongan Aungan”. Terletak di dataran tinggi, terowongan ini tidak hanya menjadi penghubung antarjalan, tetapi juga menandai keberlanjutan warisan dan kehidupan masyarakat Desa Kekeran, Buleleng, Bali.

Pembangunan Terowongan Aungan ini dimulai pada Tahun 1931, sebuah proyek monumental yang melibatkan seluruh masyarakat pada saat itu. Dengan Pembangun terowongan ini di mulai pada masa kolonial Belanda dimana pembangunanya itu dilakukan oleh tentara Kolonial, Para Pekerja, dan Masyarakat desa pada saat itu.

Pemanguann terowongan dengan Panjang 100 meter ini, melintasi bukit yang terjal yang membelah Sebagian dari Bukit itu untuk di jadikan jalan, Sebagai Penghubung untuk jalur Perlintasan pada masa kolonial belanda saat itu. Yang sekarang merupakan jalur tembusan menuju jalan raya Seririt, Pupuan, Seiring berjalanya waktu, terowongan ini sekarang telah menjadi ikon Desa Kekeran yang penuh akan cerita Sejarah.

Baca Juga:  CFD Buleleng, Bank Sampah Kaliber Gelar Eling

Terowongan ini bukanlah hanya hasil konstruksi teknis yang mempesona, tetapi juga sarat akan simbolisme kehidupan, menciptakan atmosfer mistis bagi setiap orang yang melintasinya. Karena Setiap melintasi terowongan ini, serasa vibesnya itu berbeda sekali dari tempat-tempat yang lain. Rimbunya dedaunan dan Pepohonan lebat yang menutupi pingiran dari jalan terowonngan aungan tersebut, membuat kesan tersendiri bagi orang yang melintasi nya.

Sebagai penghubung jalan, “Terowongan Aungan” memainkan peran krusial dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat di desa. Ketika matahari terbit, para petani membawa hasil bumi mereka melewati terowongan untuk dijual di pasar lokal. Kendaraan bermotor dan sepeda motor melintas dengan lincahnya, menciptakan kehidupan pulsating di setiap pagi yang cerah.

Baca Juga:  Blayag, Makanan Bergizi yang Ekonomis dan Tidak Bikin Dompet Menangis

Namun, lebih dari sekadar jalan, “Terowongan Aungan” menjadi saksi bisu Masa Pemerintahan kolonoal belanda. Dimana pada saat itu pembanguan terowongan ini banyak sekali menyimpan cerita kelam, karena saat itu pada masa pemerintahan kolonial belanda, masyarakat merasakan kerasnya pemerintahan belanda, banyak orang yang melakukan kerja paksa terkait Pembangunan terowongan ini, yang menyebakan banyak korban dari kerasnya masa pemerintahan saat itu, yang mungkin masih membekas sampai saat ini di masayarakat desa Kekeran Namun, seiring perjalanan waktu “Terowongan Aungan” ini tidak selalu mulus.

Di masa lalu, terowongan ini mengalami kerusakan akibat bencana alam dan erosi tanah. Namun, dengan tekad dan kolaborasi masyarakat desa, mereka berhasil merevitalisasi dan memulihkan keelokannya. Proyek restorasi ini menjadi simbol ketahanan dan semangat kebersamaan yang tak tergoyahkan.

Baca Juga:  PLN Salurkan 2000 Paket Sembako pada Masyarakat Terdampak Covid–19 di Wilayah Buleleng dan Jembrana

Sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kekeran, “Terowongan Aungan” bukan hanya menjadi penghubung fisik antarjalan, tetapi juga menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, mencerminkan kearifan dan kebersamaan yang telah mengakar dalam Masyarakat desa Kekeran.

“Terowongan Aungan” tidak hanya sebuah ikon, tetapi juga sebagai tempat yang Instagramable cocok buat yang suka berfoto-foto, Dengan desain estetik yang memukau, dipenuhi pepohonan yang rindang menciptakan nuansa unik. Cahaya yang masuk melalui celah-celah pepohonan menciptakan kontras yang memukau, menciptakan lanskap yang tak terlupakan. Karena “aungan” ini adalah sebuah karya seni hidup yang terus menyinari jejak-jejak waktu dan menyatukan hati masyarakat desa Kekeran.

Penulis : I Gede Wahyu Paramartha

Mahasiswa dari STAHN Mpu Kuturan Singaraja

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments