UPDATEBALI.com, DENPASAR – PT PLN (Persero) menetapkan Bali sebagai wilayah percontohan pengembangan Smart Grid nasional. Melalui proyek ini, PLN menargetkan sistem distribusi listrik yang lebih andal, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mampu mengakomodasi pemanfaatan energi baru terbarukan dan kendaraan listrik di masa mendatang.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Distribusi PT PLN (Persero), Arsyadany Ghana Akmalaputri, saat melakukan kunjungan kerja ke PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali dalam agenda Inspiring and Aligning Visi Direktorat Distribusi: Smart, Resilient, Green. Kunjungan tersebut sekaligus meninjau berbagai inovasi digital yang tengah diterapkan PLN di Pulau Dewata.
Menurut Arsyadany, Bali dipilih sebagai lokasi Proof of Concept (PoC) Distributed Energy Resource Management System (DERMS) karena memiliki karakteristik jaringan kelistrikan yang dinilai ideal untuk pengembangan sistem distribusi berbasis digital.
Selain memiliki infrastruktur yang mendukung, Bali juga dinilai memiliki potensi besar dalam pemanfaatan energi bersih. Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Bali diproyeksikan mencapai sekitar 500 megawatt atau setara 43,14 persen dari rata-rata beban sistem sebesar 1.159 megawatt. Kondisi tersebut menjadikan Bali sebagai lokasi yang tepat untuk menguji integrasi energi terbarukan ke dalam jaringan listrik.
“Transformasi distribusi bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih cerdas, tangguh, dan berkelanjutan. Pilot project di Bali harus mampu membuktikan bahwa digitalisasi distribusi dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik, mempercepat respons terhadap gangguan, mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan, serta menjadi model implementasi yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia,” ujar Arsyadany.
Dalam kunjungan tersebut, Arsyadany meninjau Distribution Control Center (DCC) milik PLN UP2D Bali yang menjadi pusat pengendalian jaringan distribusi. Ia juga melihat langsung implementasi DERMS serta sistem komunikasi LTE 450 MHz yang menjadi infrastruktur utama dalam mendukung pengoperasian Smart Grid.
Manager PLN UP2D Bali, Petrus Irwan Ichwansaputra, menjelaskan DERMS merupakan platform digital yang mampu mengelola berbagai sumber energi yang terhubung ke jaringan distribusi, seperti PLTS atap, sistem penyimpanan energi (battery energy storage), hingga kendaraan listrik.
“Semakin banyak sumber energi baru yang terhubung ke jaringan listrik, semakin kompleks pula pengelolaannya. Melalui DERMS, PLN dapat memantau kondisi jaringan secara real time, menjaga keseimbangan pasokan dan beban, serta mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan tanpa mengurangi keandalan sistem,” jelas Petrus.
Menurutnya, penggunaan DERMS juga akan meningkatkan kemampuan PLN dalam mendeteksi potensi gangguan sejak dini sehingga keputusan operasional dapat dilakukan lebih cepat dan pelayanan kepada pelanggan menjadi semakin optimal.
Petrus menambahkan, transformasi jaringan distribusi di Bali tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas layanan kelistrikan, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam mendukung pengembangan energi bersih serta ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
“Kami bangga Bali dipercaya menjadi salah satu lokasi percontohan transformasi distribusi PLN. Melalui implementasi DERMS, LTE 450 MHz, dan berbagai inovasi digital lainnya, kami ingin menghadirkan layanan kelistrikan yang semakin andal, responsif, efisien, sekaligus siap mendukung pengembangan energi baru terbarukan dan ekosistem kendaraan listrik di Bali,” kata Petrus.
Ke depan, PLN juga menyiapkan Bali sebagai lokasi pengembangan Virtual Power Plant (VPP). Kehadiran DERMS akan menjadi fondasi utama dalam mengintegrasikan berbagai sumber energi secara lebih fleksibel, efisien, dan berbasis teknologi digital.
Melalui konsep Smart, Resilient, Green, PLN berharap transformasi ini mampu memperkuat sistem kelistrikan nasional sekaligus mendukung target transisi energi menuju Net Zero Emissions. Bagi masyarakat, implementasi Smart Grid diharapkan menghadirkan pasokan listrik yang lebih stabil, pemulihan gangguan yang lebih cepat, kualitas tegangan yang semakin baik, serta kesiapan jaringan dalam mendukung pemanfaatan energi ramah lingkungan.(den/ub)





